Cermin Diri, Cermin Tuhan: Renungan Sufi dari Kimia Kebahagiaan Imam Al-Ghazali
Miftah yusufpati
Senin, 16 Juni 2025 - 05:45 WIB
Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam lorong sunyi perenungan jiwa, Imam Al-Ghazali membisikkan sebuah kebenaran yang menggetarkan: “Barang siapa mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Tuhannya.” Sebuah hadis yang menjadi peta menuju hakikat, bukan dengan menatap langit atau menyusuri cakrawala, melainkan dengan menunduk, menyelami kedalaman diri.
Sungguh, manusia yang merenungi keberadaannya akan segera sadar betapa lemahnya ia ketika hanya berupa setetes air. Ia tak memiliki mata untuk melihat, tangan untuk menggenggam, atau hati untuk mencinta. Dari ketiadaan itu ia tumbuh, dijalin oleh Kekuasaan, ditata oleh Kebijaksanaan, dan diselimuti oleh Cinta yang tak terucap. Dan bukankah Sang Maha itu lebih dekat dari urat lehernya sendiri?
Dari struktur tubuhnya yang mustahil dicipta oleh kecerdasan mana pun, dari harmonisasi tangan dan jari-jari yang bekerja dalam ketundukan sempurna, hingga cara lidah menelan, mata menatap, dan hati merasa—segala sesuatu pada dirinya adalah pesan-pesan Ilahi yang tak bersuara.
Jika manusia jujur, ia akan melihat dirinya sebagai kerajaan kecil. Rohnya adalah sang raja, hati adalah jibril yang menyampaikan ilham, otak sebagai kursi tempat berpikir, dan pikirannya adalah lauh mahfuzh tempat tersimpan rahasia. Roh mengatur jasad sebagaimana Allah mengatur semesta, tanpa kasat mata, tanpa batas ruang dan waktu.
Baca juga: Orang-Orang Kafir setelah Mati Akan Disiksa 99 Ular, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali
Dan seperti seorang penulis yang mengguratkan nama “Allah” di atas kertas, manusia mengguratkan kehendak di dunia melalui lintasan rohani, pikiran, dan tindakan. Itulah jejak penciptaan kecil, pantulan dari kehendak Sang Pencipta Agung.
Namun tidak semua bisa menangkap cahaya ini. Sebagian manusia seperti semut yang merayap di atas tulisan, hanya melihat tinta dan tidak memahami tangan yang menulis. Mereka berhenti pada sebab-sebab lahiriah dan melupakan Dzat di balik layar sebab. Mereka mengira pena adalah penentu, padahal pena hanya alat.
Sungguh, manusia yang merenungi keberadaannya akan segera sadar betapa lemahnya ia ketika hanya berupa setetes air. Ia tak memiliki mata untuk melihat, tangan untuk menggenggam, atau hati untuk mencinta. Dari ketiadaan itu ia tumbuh, dijalin oleh Kekuasaan, ditata oleh Kebijaksanaan, dan diselimuti oleh Cinta yang tak terucap. Dan bukankah Sang Maha itu lebih dekat dari urat lehernya sendiri?
Dari struktur tubuhnya yang mustahil dicipta oleh kecerdasan mana pun, dari harmonisasi tangan dan jari-jari yang bekerja dalam ketundukan sempurna, hingga cara lidah menelan, mata menatap, dan hati merasa—segala sesuatu pada dirinya adalah pesan-pesan Ilahi yang tak bersuara.
Jika manusia jujur, ia akan melihat dirinya sebagai kerajaan kecil. Rohnya adalah sang raja, hati adalah jibril yang menyampaikan ilham, otak sebagai kursi tempat berpikir, dan pikirannya adalah lauh mahfuzh tempat tersimpan rahasia. Roh mengatur jasad sebagaimana Allah mengatur semesta, tanpa kasat mata, tanpa batas ruang dan waktu.
Baca juga: Orang-Orang Kafir setelah Mati Akan Disiksa 99 Ular, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali
Dan seperti seorang penulis yang mengguratkan nama “Allah” di atas kertas, manusia mengguratkan kehendak di dunia melalui lintasan rohani, pikiran, dan tindakan. Itulah jejak penciptaan kecil, pantulan dari kehendak Sang Pencipta Agung.
Namun tidak semua bisa menangkap cahaya ini. Sebagian manusia seperti semut yang merayap di atas tulisan, hanya melihat tinta dan tidak memahami tangan yang menulis. Mereka berhenti pada sebab-sebab lahiriah dan melupakan Dzat di balik layar sebab. Mereka mengira pena adalah penentu, padahal pena hanya alat.