Dari Kuil Anahita ke Mimbar Masjid: Kisah Kota Istakhr yang Diperebutkan Tiga Zaman
Miftah yusufpati
Selasa, 17 Juni 2025 - 15:15 WIB
Istana Kisra. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di balik reruntuhan Persepolis, kota tua Istakhr berdiri seperti jimat masa lalu yang tak kunjung padam. Di sinilah, sekitar tahun ke-20 Hijriah, denyut terakhir kejayaan Zoroaster dan Sasanid berpacu melawan waktu. Pasukan Muslimin datang bukan hanya dengan pedang dan panji, tapi juga dengan mandat sejarah.
Usman bin Abil-As as-Saqafi, panglima dari Bahrain, menyeberangi Teluk Persia dengan kapal, lalu menyusup ke jantung Persia melalui pulau Aizakawan. Dari titik itu, gerak cepat dimulai. Tawwaj, kota pertahanan kuat, direbut dalam pertempuran berdarah. Selanjutnya, Shapur dan Ardasyir menyusul, sampai akhirnya ia berdiri di ambang Istakhr—ibu kota spiritual dan simbol terakhir dari dinasti Sasani yang sedang sekarat.
Istakhr bukan sekadar kota. Ia adalah *mihrab* bagi kaum Majusi. Kuil api Anahita masih menyala dan arwah raja-raja kuno seperti Ardasyir I seolah menggantung di langit-langit batu. Tapi waktu tak bisa ditahan. Ketika pengepungan kian ketat, pasukan Harbaz, komandan Persia, mulai lunglai. Satu demi satu pintu kota menyerah.
Baca juga: Presiden Prabowo Serukan Perdamaian Atas Konflik Iran-Israel
Muhammad Husain Haekal, dalam Al-Faruq Umar, mencatat betapa tak ada jalan lain bagi Harbaz selain menyerah. Tapi kepasrahan itu tak berlangsung lama. Istakhr menggeliat, memberontak, dan memanggil-manggil bayangan masa lalu untuk bangkit. Mereka menghubungi Syahrak, penguasa Kirman yang menyimpan bara perlawanan.
Usaha itu sia-sia. Dalam pertempuran panjang dan brutal di Tawwaj, Syahrak terbunuh. Harapan Persia pun runtuh bersama benteng terakhir mereka. Seperti serpihan dari api suci yang padam ditiup angin sejarah.
Persia Retak dari Dalam
Usman bin Abil-As as-Saqafi, panglima dari Bahrain, menyeberangi Teluk Persia dengan kapal, lalu menyusup ke jantung Persia melalui pulau Aizakawan. Dari titik itu, gerak cepat dimulai. Tawwaj, kota pertahanan kuat, direbut dalam pertempuran berdarah. Selanjutnya, Shapur dan Ardasyir menyusul, sampai akhirnya ia berdiri di ambang Istakhr—ibu kota spiritual dan simbol terakhir dari dinasti Sasani yang sedang sekarat.
Istakhr bukan sekadar kota. Ia adalah *mihrab* bagi kaum Majusi. Kuil api Anahita masih menyala dan arwah raja-raja kuno seperti Ardasyir I seolah menggantung di langit-langit batu. Tapi waktu tak bisa ditahan. Ketika pengepungan kian ketat, pasukan Harbaz, komandan Persia, mulai lunglai. Satu demi satu pintu kota menyerah.
Baca juga: Presiden Prabowo Serukan Perdamaian Atas Konflik Iran-Israel
Muhammad Husain Haekal, dalam Al-Faruq Umar, mencatat betapa tak ada jalan lain bagi Harbaz selain menyerah. Tapi kepasrahan itu tak berlangsung lama. Istakhr menggeliat, memberontak, dan memanggil-manggil bayangan masa lalu untuk bangkit. Mereka menghubungi Syahrak, penguasa Kirman yang menyimpan bara perlawanan.
Usaha itu sia-sia. Dalam pertempuran panjang dan brutal di Tawwaj, Syahrak terbunuh. Harapan Persia pun runtuh bersama benteng terakhir mereka. Seperti serpihan dari api suci yang padam ditiup angin sejarah.
Persia Retak dari Dalam