home masjid

Nabi Muhammad dalam Spektrum Nubuwwah dan Kemanusiaan Menurut Syaikh Al-Qardhawi

Selasa, 01 Juli 2025 - 04:15 WIB
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: al Jazeera
LANGIT7.ID-Narasi bahwa Nabi Muhammad adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah telah lama hidup dalam teks-teks pujian, kisah maulid, bahkan sejumlah pernyataan para sufi. Ada yang menyebut beliau berasal dari cahaya ilahiah. Ada pula yang menegaskan bahwa segala penciptaan bermula dari "Nur Muhammad". Tapi benarkah itu adalah bagian dari doktrin Islam yang shahih?

Pandangan populer ini belakangan dikritisi secara tajam oleh para ulama Ahlus Sunnah. Salah satunya olehSyaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam karya monumentalnya, Fatawa Mu’ashirah. Dalam salah satu fatwanya, beliau menegaskan bahwa tidak ada satu pun hadis sahih yang memastikan bahwa makhluk pertama adalah Nabi Muhammad, atau pena, atau akal, sebagaimana kerap diklaim oleh sebagian orang. Bahkan, menurutnya, riwayat-riwayat semacam itu saling bertentangan dan tidak bisa dijadikan landasan teologis.

Dalam khazanah hadis, memang ditemukan beragam pernyataan. Ada hadis yang menyebut, “Makhluk pertama adalah pena.” Hadis lain mengatakan, “Yang pertama adalah akal.” Sementara dalam kisah maulid, dikenal pernyataan bahwa Allah menciptakan nur Muhammad sebelum segalanya. “Riwayat-riwayat itu tidak sah dan tidak mendidik umat pada akidah yang kokoh,” tulis Qardhawi.

Baca juga: Bangunan Batu, Jiwa yang Terlupa: Kritik Al-Qardhawi atas Umat yang Salah Menimbang Amal

Kritik atas Kultus Figur

Qardhawi bukan satu-satunya ulama yang kritis terhadap glorifikasi berlebihan terhadap Nabi. Para ulama klasik dari golongan Ahlus Sunnah sudah lama mengingatkan bahwa sanjungan berlebihan, apalagi sampai menuhankan atau mendewakan Nabi, bertentangan dengan perintah beliau sendiri. Sebuah hadis sahih riwayat Bukhari menyatakan: “Janganlah kamu menyanjungku seperti kaum Nasrani menyanjung Isa bin Maryam. Aku hanyalah hamba Allah dan rasul-Nya.”

Kritik ini tidak ditujukan untuk merendahkan kedudukan Nabi Muhammad, tetapi justru untuk memuliakan beliau sesuai dengan porsi yang benar. Bahwa beliau adalah manusia, hamba Allah, dan sekaligus utusan-Nya. Seorang rasul yang terlahir dari lelaki dan perempuan, bukan dari cahaya yang digenggam langsung oleh Tuhan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya