Doa-doa Nabi Musa yang Tak Lelah Melawan Fir’aun
Miftah yusufpati
Selasa, 01 Juli 2025 - 15:27 WIB
Doa-doa Musa bukan sekadar ritual verbal. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam lembar-lembar Al-Qur’an, nama Musa as mencuat lebih dari sekadar seorang nabi. Ia adalah simbol keteguhan, pemberani yang lahir di masa tirani, dan pejuang yang menggenggam risalah dengan kepasrahan total kepada Tuhannya. Sebanyak 136 kali namanya disebut dalam Kitab Suci Al-Quran, terbanyak dibanding nabi-nabi lain. Kisahnya bukan sekadar sejarah, tapi pancaran spiritual yang tetap menyala bagi umat Islam hari ini.
Di balik tongkat dan mukjizatnya, Musa adalah manusia biasa yang juga takut, khilaf, menyesal, dan butuh pertolongan. Dan di titik itulah, Musa mengajarkan: kekuatan sejati terletak pada doa.
Berikut adalah delapan doa Nabi Musa yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Masing-masing menyimpan dimensi spiritual yang dalam—perpaduan antara kerendahan hati dan semangat perlawanan. Doa-doa itu bukan sekadar lisan, melainkan refleksi pergulatan batin dan perlawanan terhadap kezaliman, kejahilan, serta kelemahan diri sendiri.
1. Berlindung dari Kejahilan
أَعُوذُ بِٱللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ
“Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” (QS Al-Baqarah: 67)
Doa ini lahir dari ironi. Ketika Musa menyampaikan perintah Ilahi untuk menyembelih sapi, kaumnya malah menanggapinya dengan sinisme dan ejekan. Maka Musa menjawab dengan permohonan ini—meminta perlindungan dari sifat-sifat jahil, bukan hanya kebodohan intelektual, tapi kesombongan spiritual yang menolak kebenaran meski terang benderang.
Di balik tongkat dan mukjizatnya, Musa adalah manusia biasa yang juga takut, khilaf, menyesal, dan butuh pertolongan. Dan di titik itulah, Musa mengajarkan: kekuatan sejati terletak pada doa.
Berikut adalah delapan doa Nabi Musa yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Masing-masing menyimpan dimensi spiritual yang dalam—perpaduan antara kerendahan hati dan semangat perlawanan. Doa-doa itu bukan sekadar lisan, melainkan refleksi pergulatan batin dan perlawanan terhadap kezaliman, kejahilan, serta kelemahan diri sendiri.
1. Berlindung dari Kejahilan
أَعُوذُ بِٱللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ
“Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” (QS Al-Baqarah: 67)
Doa ini lahir dari ironi. Ketika Musa menyampaikan perintah Ilahi untuk menyembelih sapi, kaumnya malah menanggapinya dengan sinisme dan ejekan. Maka Musa menjawab dengan permohonan ini—meminta perlindungan dari sifat-sifat jahil, bukan hanya kebodohan intelektual, tapi kesombongan spiritual yang menolak kebenaran meski terang benderang.