Catatan The New York Times: Saat Ekonomi Lambat Sebagian Berpendapat Ini Bukan Waktu Tepat Makan Siang Gratis
Tim langit 7
Kamis, 03 Juli 2025 - 20:49 WIB
Catatan The New York Times: Saat Ekonomi Lambat Sebagian Berpendapat Ini Bukan Waktu Tepat Makan Siang Gratis
LANGIT7.ID-Jakarta; Presiden Indonesia menjanjikan makan siang gratis untuk setiap siswa di negeri ini. Namun, angka pengangguran terus meningkat, dan beberapa analis mengatakan kebijakannya justru memperburuk keadaan.
Nina Megayanti dulu merasa hidupnya sudah sempurna. Selama bertahun-tahun, ia menikmati kehidupan nyaman di Jakarta, ibu kota Indonesia—makan di luar bersama teman-teman, bepergian ke luar negeri di akhir pekan, dan mencicil rumah. Namun pada 2023, ia di-PHK dari pekerjaannya di bidang pemasaran seiring melambatnya ekonomi. Ia menganggur selama lebih dari setahun, kehilangan uang muka rumah, dan hampir menghabiskan seluruh tabungannya.
Jutaan warga Indonesia lainnya juga merasakan keputusasaan yang sama. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa tingkat pengangguran negara ini akan meningkat tahun ini menjadi tertinggi kedua di Asia, hanya kalah dari Tiongkok.
Namun, pemerintah menyatakan perekonomian dalam kondisi baik, dengan menunjuk angka pertumbuhan tahunan sekitar 5%. Sejak dilantik pada Oktober, Presiden Prabowo Subianto fokus memenuhi janji kampanyenya, termasuk program makan siang gratis nasional dan perumahan terjangkau. Ia juga mendirikan dana kekayaan negara baru.
Untuk membiayai proyek-proyek ini, ia mengalihkan dana pemerintah senilai miliaran dolar, memotong anggaran, dan menuntut penghematan di berbagai kementerian, termasuk pekerjaan umum, kesehatan, dan pendidikan. Ribuan kontraktor pemerintah juga dipecat. Namun, ekonomi Indonesia sangat bergantung pada belanja negara, dan para kritikus menyatakan prioritas Prabowo keliru.
"Pemerintah menyangkal keadaan ekonomi yang sebenarnya," kata Awalil Rizky, ekonom dari Bright Institute, lembaga think tank independen di Jakarta. "Angka ketenagakerjaan adalah bukti bahwa kondisinya memang tidak baik."
IMF memproyeksikan tingkat pengangguran Indonesia akan naik menjadi 5% tahun ini, dari 4,9% pada 2024. Pada Selasa lalu, pemerintah juga menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2025 dari 5,2% menjadi sekitar 5%.
Nina Megayanti dulu merasa hidupnya sudah sempurna. Selama bertahun-tahun, ia menikmati kehidupan nyaman di Jakarta, ibu kota Indonesia—makan di luar bersama teman-teman, bepergian ke luar negeri di akhir pekan, dan mencicil rumah. Namun pada 2023, ia di-PHK dari pekerjaannya di bidang pemasaran seiring melambatnya ekonomi. Ia menganggur selama lebih dari setahun, kehilangan uang muka rumah, dan hampir menghabiskan seluruh tabungannya.
Jutaan warga Indonesia lainnya juga merasakan keputusasaan yang sama. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa tingkat pengangguran negara ini akan meningkat tahun ini menjadi tertinggi kedua di Asia, hanya kalah dari Tiongkok.
Namun, pemerintah menyatakan perekonomian dalam kondisi baik, dengan menunjuk angka pertumbuhan tahunan sekitar 5%. Sejak dilantik pada Oktober, Presiden Prabowo Subianto fokus memenuhi janji kampanyenya, termasuk program makan siang gratis nasional dan perumahan terjangkau. Ia juga mendirikan dana kekayaan negara baru.
Untuk membiayai proyek-proyek ini, ia mengalihkan dana pemerintah senilai miliaran dolar, memotong anggaran, dan menuntut penghematan di berbagai kementerian, termasuk pekerjaan umum, kesehatan, dan pendidikan. Ribuan kontraktor pemerintah juga dipecat. Namun, ekonomi Indonesia sangat bergantung pada belanja negara, dan para kritikus menyatakan prioritas Prabowo keliru.
"Pemerintah menyangkal keadaan ekonomi yang sebenarnya," kata Awalil Rizky, ekonom dari Bright Institute, lembaga think tank independen di Jakarta. "Angka ketenagakerjaan adalah bukti bahwa kondisinya memang tidak baik."
IMF memproyeksikan tingkat pengangguran Indonesia akan naik menjadi 5% tahun ini, dari 4,9% pada 2024. Pada Selasa lalu, pemerintah juga menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2025 dari 5,2% menjadi sekitar 5%.