Heboh Perkosaan Massal Mei 1998: Realitas atau Ilusi?
Darmawan sepriyossa
Sabtu, 05 Juli 2025 - 15:01 WIB
Heboh Perkosaan Massal Mei 1998: Realitas atau Ilusi?
LANGIT7.ID-Jakarta;Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon tentang absennya bukti kuat terkait isu perkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998, memicu perdebatan, baik di media massa maupun media sosial. Sebagian publik menilai isu itu sebagai luka sejarah yang tak boleh dilupakan. Tapi sebagian lainnya, paling tidak saya, melihatnya sebagai narasi yang sejak awal bermasalah secara metodologis, bahkan mungkin politis.
Isu ini bukan baru. Ia sudah mengemuka sejak awal kerusuhan 13–15 Mei 1998 mengguncang Jakarta dan sejumlah kota lain. Tapi saat Majalah Tempo akan kembali terbit pasca-bredel, tema itulah— penjarahan dan perkosaan massal —yang hendak kami angkat sebagai laporan utama. Saya ada di ruang redaksi itu. Bersama para reporter lain, selama lebih dari dua bulan kami mencari, menelusuri, menggali. Untuk “perkosaan massal”, hasilnya nihil.
Fakta itu membuat waktu kami mencari ditambahkan sebulan lagi. Tetap nihil. Maka edisi perdana Tempo pasca-bredel, yang akhirnya terbit Oktober 1998 dengan cover bergambar mata sipit menangis, tidak memuat satu pun nama korban langsung peristiwa “perkosaan massal” tersebut. Kami jelas kecewa. Tapi fakta tidak bisa dipaksa lahir hanya karena suasana mendukung.
Begitu isu tersebut memanas lagi akhir-akhir ini, di sebuah grup WA, Wahyu Muryadi, redaktur pelaksana (managing editor) Majalah Tempo saat itu, memberi pengakuan yang terang. “Adakah yang bisa membuktikan atau setidaknya yang berani berikan testimoni korban perkosaan saat itu? Saat saya menjadi Redpel Tempo yang memberitakan peristiwa tersebut, kami gagal mendapatkan info sahih pemerkosaan. Banyak katanya-katanya.”
Saya, Mas Wahyu, dan terutama Majalah TEMPO saat itu, bukan tidak percaya pada berita-berita yang merebak kuat. Tapi sebagai jurnalis, kami percaya bahwa keberanian menyampaikan kebenaran harus didampingi bukti dan verifikasi. Justru itulah yang tak kami temukan setelah tiga bulan (dua bulan plus satu bulan) pencarian.
Dalam forum Real Talk-IDN Times, Dr. Hermawan Sulistyo—peneliti senior LIPI dan Ketua Tim Asistensi TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) yang menjadi tim investigasi TGPF—membuka kembali catatan lama yang masih relevan hingga kini. Hermawan, atau akrab disapa Kiki, bercerita bahwa timnya bahkan menggunakan pendekatan paling empatik: memilih polwan sebagai investigator lapangan, berharap korban akan lebih terbuka. Ia sendiri menyimpan semua data, tidak membagikannya bahkan kepada wakilnya.
Tim Kiki menyisir rumah sakit, bekerja sama dengan IDI, menerapkan Denver Protocol untuk menelusuri jejak medis kekerasan seksual. Ia bahkan dibimbing langsung oleh almarhumah dr. Rosita Noor, juga anggota TGPF. Salah satu korban, dengan nama samaran Vivian, sempat diperiksa secara medis, namun keburu dibawa keluarganya ke Taiwan sebelum bisa diwawancarai.
Isu ini bukan baru. Ia sudah mengemuka sejak awal kerusuhan 13–15 Mei 1998 mengguncang Jakarta dan sejumlah kota lain. Tapi saat Majalah Tempo akan kembali terbit pasca-bredel, tema itulah— penjarahan dan perkosaan massal —yang hendak kami angkat sebagai laporan utama. Saya ada di ruang redaksi itu. Bersama para reporter lain, selama lebih dari dua bulan kami mencari, menelusuri, menggali. Untuk “perkosaan massal”, hasilnya nihil.
Fakta itu membuat waktu kami mencari ditambahkan sebulan lagi. Tetap nihil. Maka edisi perdana Tempo pasca-bredel, yang akhirnya terbit Oktober 1998 dengan cover bergambar mata sipit menangis, tidak memuat satu pun nama korban langsung peristiwa “perkosaan massal” tersebut. Kami jelas kecewa. Tapi fakta tidak bisa dipaksa lahir hanya karena suasana mendukung.
Begitu isu tersebut memanas lagi akhir-akhir ini, di sebuah grup WA, Wahyu Muryadi, redaktur pelaksana (managing editor) Majalah Tempo saat itu, memberi pengakuan yang terang. “Adakah yang bisa membuktikan atau setidaknya yang berani berikan testimoni korban perkosaan saat itu? Saat saya menjadi Redpel Tempo yang memberitakan peristiwa tersebut, kami gagal mendapatkan info sahih pemerkosaan. Banyak katanya-katanya.”
Saya, Mas Wahyu, dan terutama Majalah TEMPO saat itu, bukan tidak percaya pada berita-berita yang merebak kuat. Tapi sebagai jurnalis, kami percaya bahwa keberanian menyampaikan kebenaran harus didampingi bukti dan verifikasi. Justru itulah yang tak kami temukan setelah tiga bulan (dua bulan plus satu bulan) pencarian.
Dalam forum Real Talk-IDN Times, Dr. Hermawan Sulistyo—peneliti senior LIPI dan Ketua Tim Asistensi TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) yang menjadi tim investigasi TGPF—membuka kembali catatan lama yang masih relevan hingga kini. Hermawan, atau akrab disapa Kiki, bercerita bahwa timnya bahkan menggunakan pendekatan paling empatik: memilih polwan sebagai investigator lapangan, berharap korban akan lebih terbuka. Ia sendiri menyimpan semua data, tidak membagikannya bahkan kepada wakilnya.
Tim Kiki menyisir rumah sakit, bekerja sama dengan IDI, menerapkan Denver Protocol untuk menelusuri jejak medis kekerasan seksual. Ia bahkan dibimbing langsung oleh almarhumah dr. Rosita Noor, juga anggota TGPF. Salah satu korban, dengan nama samaran Vivian, sempat diperiksa secara medis, namun keburu dibawa keluarganya ke Taiwan sebelum bisa diwawancarai.