LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta madrasah menjadi rumah literasi bagi peserta didik. Ruang literasi tidak hanya hadir di perpustakaan, tetapi juga tumbuh dalam berbagai kegiatan pembelajaran, pengembangan diri, dan kolaborasi di lingkungan madrasah.
“Madrasah harus mampu menjadi rumah literasi. Setiap sudut madrasah perlu menghadirkan ruang membaca, ruang diskusi, ruang riset, dan ruang menulis, hingga ruang kolaborasi digital,” kata Menag dalam keterangannya, dikutip Selasa (7/7/2026).
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, literasi madrasah perlu dimaknai lebih luas, tidak hanya sebagai kebiasaan membaca, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, mengolah informasi, dan menghasilkan karya. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, menganalisis persoalan, serta mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
“Festival Gerakan Literasi Madrasah ini haruslah kita maknai lebih luas, bukan hanya meningkatkan minat membaca di kalangan para siswa, tetapi juga upaya meningkatkan kemampuan siswa untuk memahami, menganalisis, dan mengolah informasi menjadi hal-hal kritis untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Menag.
Menurut Menag, keunggulan madrasah terletak pada kemampuannya mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan akhlak. Di tengah derasnya arus informasi digital, peserta didik madrasah perlu memiliki kemampuan memilah informasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Ia mengingatkan, tantangan pendidikan saat ini bukan lagi sekadar keterbatasan informasi, melainkan kemampuan membedakan fakta dan hoaks, ilmu dan opini, serta informasi yang benar dan menyesatkan. Karena itu, Gerakan Literasi Madrasah juga perlu menjadi gerakan membangun nalar kritis, etika digital, dan karakter peserta didik.
Menag berharap peserta didik madrasah tumbuh menjadi generasi yang mampu menyaring informasi sebelum menyebarkannya. Mereka juga diharapkan mampu berdialog tanpa kebencian serta memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan ilmu, nilai-nilai keagamaan yang membawa kemaslahatan, dan manfaat bagi masyarakat.
Menag berharap GALATAMA tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi terus berkembang menjadi gerakan membangun ekosistem ilmu di madrasah. Keberhasilan literasi tidak hanya diukur dari banyaknya buku yang dibaca. Lebih jauh, literasi perlu melahirkan gagasan, tulisan, penelitian, karya, inovasi, dan solusi yang memberi kontribusi bagi masyarakat.
“Ukuran keberhasilan literasi tidak dilihat dari banyaknya buku yang dibaca, melainkan dari banyaknya gagasan yang ditulis, penelitian yang dilakukan, karya yang dihasilkan, inovasi yang diciptakan, dan solusi yang dihasilkan,” tutur Menag.
Menag juga mengajak madrasah membiasakan peserta didik membaca buku nonpelajaran selama 15 menit setiap hari. Kebiasaan sederhana ini dinilai dapat memperluas wawasan, memperkuat pengetahuan umum, dan menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap ilmu.
“Marilah kita terus jaga dan tingkatkan semangat Gerakan Literasi Madrasah dengan menerapkan kebiasaan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit setiap hari,” ucapnya.
Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe menyampaikan bahwa literasi merupakan keterampilan penting dalam pendidikan. Ia menilai kemampuan membaca, menulis, memahami, menginterpretasi, dan menganalisis informasi menjadi bekal utama peserta didik dalam menghadapi perkembangan zaman.
Sarbin Sehe menyampaikan, Festival Gerakan Literasi Madrasah menjadi ruang kolaborasi antara Kementerian Agama dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara dalam memperkuat kualitas literasi di lingkungan madrasah. Ia berharap gerakan literasi dapat terus melibatkan berbagai pihak untuk membangun madrasah sebagai lingkungan pendidikan yang literat sepanjang hayat.
Melalui GALATAMA II, penguatan literasi madrasah diharapkan dapat menumbuhkan peserta didik yang kritis, berwawasan luas, berkarakter, serta mampu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
(lam)