Syukur: Membuka Pintu Nikmat, Menutup Celah Kufur
Miftah yusufpati
Sabtu, 05 Juli 2025 - 16:58 WIB
Syukur, dengan begitu, bukan sekadar ucapan yang kita lafazkan setelah mendapat hadiah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di banyak mimbar, kata itu terdengar ringan: syukur. Ucapan yang sering dilontarkan di akhir acara, selesai makan, atau setelah terhindar dari bahaya: “Alhamdulillah.”
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, syukur berarti rasa terima kasih kepada Allah, atau sekadar “untunglah” yang menyiratkan rasa lega.
Akan tetapi makna syukur ternyata jauh lebih dalam. Al-Quran menyebut kata ini—dengan segala derivasinya—sebanyak 64 kali. Ia bukan hanya ekspresi rasa puas, tapi juga sebuah cara hidup yang menyeluruh: dengan hati, lisan, dan perbuatan.
Ahmad Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah mencatat bahwa akar kata syukur memiliki empat makna dasar: pujian atas kebaikan, kepenuhan atau kelimpahan, sesuatu yang tumbuh walau dengan sedikit, dan pernikahan. Makna-makna itu berpangkal pada satu sifat: mampu menerima dengan cukup, meski sedikit, hingga mendatangkan keberlimpahan. Dalam tradisi Arab, seekor kuda yang hanya makan sedikit rumput tetapi tetap gemuk disebut sebagai kuda yang bersyukur.
Pandangan ini senada dengan tafsir Ar-Raghib Al-Isfahani dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Quran: syukur berarti “membuka” atau menampakkan nikmat, lawan dari kufur yang berarti “menutup” atau menyembunyikan nikmat.
Baca juga: Sabar dan Syukur: Dua Sayap Menuju Ridha-Nya
Di dalam Wawasan Al-Quran (Mizan, 1996), Prof Dr M Quraish Shihab menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah menampakkan nikmat—bukan menyembunyikannya—dengan cara menggunakan nikmat itu sesuai tujuan pemberinya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, syukur berarti rasa terima kasih kepada Allah, atau sekadar “untunglah” yang menyiratkan rasa lega.
Akan tetapi makna syukur ternyata jauh lebih dalam. Al-Quran menyebut kata ini—dengan segala derivasinya—sebanyak 64 kali. Ia bukan hanya ekspresi rasa puas, tapi juga sebuah cara hidup yang menyeluruh: dengan hati, lisan, dan perbuatan.
Ahmad Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah mencatat bahwa akar kata syukur memiliki empat makna dasar: pujian atas kebaikan, kepenuhan atau kelimpahan, sesuatu yang tumbuh walau dengan sedikit, dan pernikahan. Makna-makna itu berpangkal pada satu sifat: mampu menerima dengan cukup, meski sedikit, hingga mendatangkan keberlimpahan. Dalam tradisi Arab, seekor kuda yang hanya makan sedikit rumput tetapi tetap gemuk disebut sebagai kuda yang bersyukur.
Pandangan ini senada dengan tafsir Ar-Raghib Al-Isfahani dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Quran: syukur berarti “membuka” atau menampakkan nikmat, lawan dari kufur yang berarti “menutup” atau menyembunyikan nikmat.
Baca juga: Sabar dan Syukur: Dua Sayap Menuju Ridha-Nya
Di dalam Wawasan Al-Quran (Mizan, 1996), Prof Dr M Quraish Shihab menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah menampakkan nikmat—bukan menyembunyikannya—dengan cara menggunakan nikmat itu sesuai tujuan pemberinya.