Air dalam Cangkir: Pelajaran tentang Stres, Karunia, dan Kehidupan dari Sebuah Dapur
Miftah yusufpati
Rabu, 09 Juli 2025 - 05:45 WIB
Berhentilah mengejar cangkir. Nikmatilah air yang kalian punya. Ilustrasi: Piqsel
LANGIT7.ID-Suatu sore yang tampak biasa saja di sebuah kampus. Di ruang kerja yang dindingnya sudah menguning, seorang dosen menyambut beberapa mantan mahasiswanya yang kini telah menyebar di berbagai profesi. Obrolan mereka mula-mula ringan: pekerjaan, rumah, lalu bergeser ke topik yang tampak lebih berat — stres dan tekanan hidup.
Sang dosen hanya tersenyum, mendengarkan dengan sabar, lalu beranjak dari kursinya tanpa banyak komentar. Ia kembali dari dapur dengan sebuah nampan penuh cangkir — porselen yang mewah, kaca yang bening, plastik yang sederhana. Ia mengajak para mantan mahasiswanya mengambil cangkir dan menuang air untuk diri mereka sendiri.
Dan seperti yang sudah ia duga, para tamu itu tanpa sadar berebut mengambil cangkir yang paling indah: yang berukir, yang berkilau, yang tampak mahal. Barulah setelah semua duduk kembali, sang dosen meletakkan sisa cangkir di mejanya, lalu berkata pelan sambil tetap tersenyum:
"Jika kalian perhatikan, semua dari kalian memilih cangkir yang paling indah, dan mengabaikan yang sederhana. Padahal yang kalian butuhkan hanyalah airnya."
Para mantan mahasiswa itu terdiam, sebagian tersenyum kecut. Dosen itu melanjutkan, "Masalah terbesar kalian adalah cangkir, bukan airnya. Sama seperti dalam hidup: pekerjaan, uang, dan status sosial hanyalah cangkir. Mereka hanya wadah. Tapi kalian terlalu sibuk memilih wadah yang paling cantik, hingga lupa menikmati air yang sebenarnya kalian butuhkan."
Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali
Dalam tempo yang lambat namun dalam, ia menyisipkan pula firman Allah dari Surah Thaha (131):
Sang dosen hanya tersenyum, mendengarkan dengan sabar, lalu beranjak dari kursinya tanpa banyak komentar. Ia kembali dari dapur dengan sebuah nampan penuh cangkir — porselen yang mewah, kaca yang bening, plastik yang sederhana. Ia mengajak para mantan mahasiswanya mengambil cangkir dan menuang air untuk diri mereka sendiri.
Dan seperti yang sudah ia duga, para tamu itu tanpa sadar berebut mengambil cangkir yang paling indah: yang berukir, yang berkilau, yang tampak mahal. Barulah setelah semua duduk kembali, sang dosen meletakkan sisa cangkir di mejanya, lalu berkata pelan sambil tetap tersenyum:
"Jika kalian perhatikan, semua dari kalian memilih cangkir yang paling indah, dan mengabaikan yang sederhana. Padahal yang kalian butuhkan hanyalah airnya."
Para mantan mahasiswa itu terdiam, sebagian tersenyum kecut. Dosen itu melanjutkan, "Masalah terbesar kalian adalah cangkir, bukan airnya. Sama seperti dalam hidup: pekerjaan, uang, dan status sosial hanyalah cangkir. Mereka hanya wadah. Tapi kalian terlalu sibuk memilih wadah yang paling cantik, hingga lupa menikmati air yang sebenarnya kalian butuhkan."
Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali
Dalam tempo yang lambat namun dalam, ia menyisipkan pula firman Allah dari Surah Thaha (131):