Kebahagiaan di Akhirat Seukuran Cinta Kita kepada Allah Taala
Miftah yusufpati
Jum'at, 18 Juli 2025 - 04:15 WIB
Orang-orang yang diberi *wawasan rohani* sudah merasakan kebenaran ini sebagai kenyataan pengalaman, bukan sekadar pepatah. Ilustras: Myislam Guide
LANGIT7.ID-Menurut Imam Al-Ghazali, siapa pun yang berkhayal dapat meraih kebahagiaan di akhirat tanpa mencintai Allah, sungguh telah jauh tersesat. Sebab inti dari kehidupan akhirat adalah perjumpaan dengan Allah, ibarat seseorang yang akhirnya berhasil meraih sesuatu yang sejak lama ia dambakan, setelah melewati rintangan yang tak terhitung.
Kebahagiaan itu sendiri adalah kenikmatan berada bersama Allah.
Jika seseorang di dunia tidak merasakan kenikmatan mencintai Allah, maka di akhirat ia pun tidak akan bergembira ketika berjumpa dengan-Nya. Dan jika cintanya di dunia sangat kecil, maka kebahagiaannya di akhirat pun hanya sebesar itu.
Sebaliknya — na‘ūdzu billāh — bila hati seseorang lebih mencintai sesuatu yang bertentangan dengan Allah, maka kehidupan akhirat akan terasa asing dan menyakitkan baginya. Apa yang menjadi kebahagiaan bagi para pecinta Allah justru menjadi kesedihan baginya.
Baca juga: Kimia Kebahagiaan Imam Al-Ghazali: Tirai yang Menyelubungi Allah
Al-Ghazali menggambarkan hal ini lewat sebuah anekdot:
Ada seorang pemakan bangkai yang pingsan ketika mencium aroma wangi-wangian di pasar. Orang-orang mencoba menyadarkannya dengan minyak misyk dan air mawar, tetapi ia justru semakin menderita. Hingga datang seseorang lain — juga pemakan bangkai — yang mendekatkan sampah busuk ke hidungnya. Sontak ia siuman dan berkata puas, “Nah, inilah aroma yang sesungguhnya!”
Kebahagiaan itu sendiri adalah kenikmatan berada bersama Allah.
Jika seseorang di dunia tidak merasakan kenikmatan mencintai Allah, maka di akhirat ia pun tidak akan bergembira ketika berjumpa dengan-Nya. Dan jika cintanya di dunia sangat kecil, maka kebahagiaannya di akhirat pun hanya sebesar itu.
Sebaliknya — na‘ūdzu billāh — bila hati seseorang lebih mencintai sesuatu yang bertentangan dengan Allah, maka kehidupan akhirat akan terasa asing dan menyakitkan baginya. Apa yang menjadi kebahagiaan bagi para pecinta Allah justru menjadi kesedihan baginya.
Baca juga: Kimia Kebahagiaan Imam Al-Ghazali: Tirai yang Menyelubungi Allah
Al-Ghazali menggambarkan hal ini lewat sebuah anekdot:
Ada seorang pemakan bangkai yang pingsan ketika mencium aroma wangi-wangian di pasar. Orang-orang mencoba menyadarkannya dengan minyak misyk dan air mawar, tetapi ia justru semakin menderita. Hingga datang seseorang lain — juga pemakan bangkai — yang mendekatkan sampah busuk ke hidungnya. Sontak ia siuman dan berkata puas, “Nah, inilah aroma yang sesungguhnya!”