Djokovic Setelah Gagal Juara di Wimbledon, Masih Bisakah Juara di Grand Slam Lain?
Sururi al faruq
Jum'at, 18 Juli 2025 - 06:22 WIB
Djokovic Setelah Gagal Juara di Wimbledon, Masih Bisakah Juara di Grand Slam Lain?
LANGIT7.ID-London; Petenis legend yang juga no 6 dunia, Novak Djokovic mungkin sangat memahami kutipan terkenal yang berbunyi, "seperti di awal, begitulah di akhir."
Di awal kariernya, selama beberapa tahun, Djokovic berada di peringkat ketiga, di belakang dua raksasa tenis, Roger Federer dan Rafael Nadal. Kini, dua pemain lain yang sama sama anak muda yang mendominasi. Mereka adalah petenis no 1 dunia Jannik Sinner dan petenis no 2 dunia Carlos Alcaraz. Memang, Djokovic mengalahkan Alcaraz di Australia Terbuka tahun ini. Namun, seperti yang terlihat dari tujuh turnamen besar terakhir, kita jelas berada di era Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz.
Lima belas tahun lalu, waktu berpihak pada Djokovic dalam usahanya mengejar Federer dan Nadal.
Kini, di usia 38 tahun, situasinya sangat berbeda. Memang, dengan mencapai semifinal turnamen besar untuk ketiga kalinya tahun ini, Djokovic sekali lagi membuktikan keunggulannya di Grand Slam dibanding hampir semua pemain lain. Namun, kekalahannya dari Sinner menunjukkan bahwa Djokovic yang berusia 38 tahun menghadapi tantangan terberat: versi muda dari gaya bermainnya sendiri—pukulan groundstroke kuat, pergerakan lincah, dan konsentrasi tak tergoyahkan.
Menanggapi kekecewaannya di turnamen besar saat ini, Djokovic berkata setelah pertandingan melawan Sinner, "Jujur, aku tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan, karena waktu yang kuhabiskan setiap hari untuk merawat diri sudah sangat maksimal. Aku tantang siapa pun di tur untuk membuktikan apakah ada yang lebih disiplin dariku."
Saat Djokovic berusaha melampaui semifinal di New York, apa yang akan dilakukannya? Berinovasi? Meningkatkan eksekusi? Yang terpenting, semoga ia tetap sehat. Jika Djokovic bisa bikin kejutan di US Open, tentu ceritanya akan berbeda. Yang jelas Djokovic tidak mau bicara pensiun dulu. Ia malah masih ingin kembali di wimbledon tahun depan. Obsesinya untuk menambah grand slam dari wimbledon karena ingin mengejar perolehan gram slam legend Roger Federer yang mengoleksi 8 grand slam dari wimbledon. Sementara Djokovic 7 grand slam dari wimbledon. Meskipun secara koleksi grand slam Djokovic lebih banyak, 24 grand slam dan Federer 20 grand slam, namun Djokovic merasa masih mampu untuk mengoleksi satu grand slam lagi dari wimbledon.
(*/saf/tennis)
Di awal kariernya, selama beberapa tahun, Djokovic berada di peringkat ketiga, di belakang dua raksasa tenis, Roger Federer dan Rafael Nadal. Kini, dua pemain lain yang sama sama anak muda yang mendominasi. Mereka adalah petenis no 1 dunia Jannik Sinner dan petenis no 2 dunia Carlos Alcaraz. Memang, Djokovic mengalahkan Alcaraz di Australia Terbuka tahun ini. Namun, seperti yang terlihat dari tujuh turnamen besar terakhir, kita jelas berada di era Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz.
Lima belas tahun lalu, waktu berpihak pada Djokovic dalam usahanya mengejar Federer dan Nadal.
Kini, di usia 38 tahun, situasinya sangat berbeda. Memang, dengan mencapai semifinal turnamen besar untuk ketiga kalinya tahun ini, Djokovic sekali lagi membuktikan keunggulannya di Grand Slam dibanding hampir semua pemain lain. Namun, kekalahannya dari Sinner menunjukkan bahwa Djokovic yang berusia 38 tahun menghadapi tantangan terberat: versi muda dari gaya bermainnya sendiri—pukulan groundstroke kuat, pergerakan lincah, dan konsentrasi tak tergoyahkan.
Menanggapi kekecewaannya di turnamen besar saat ini, Djokovic berkata setelah pertandingan melawan Sinner, "Jujur, aku tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan, karena waktu yang kuhabiskan setiap hari untuk merawat diri sudah sangat maksimal. Aku tantang siapa pun di tur untuk membuktikan apakah ada yang lebih disiplin dariku."
Saat Djokovic berusaha melampaui semifinal di New York, apa yang akan dilakukannya? Berinovasi? Meningkatkan eksekusi? Yang terpenting, semoga ia tetap sehat. Jika Djokovic bisa bikin kejutan di US Open, tentu ceritanya akan berbeda. Yang jelas Djokovic tidak mau bicara pensiun dulu. Ia malah masih ingin kembali di wimbledon tahun depan. Obsesinya untuk menambah grand slam dari wimbledon karena ingin mengejar perolehan gram slam legend Roger Federer yang mengoleksi 8 grand slam dari wimbledon. Sementara Djokovic 7 grand slam dari wimbledon. Meskipun secara koleksi grand slam Djokovic lebih banyak, 24 grand slam dan Federer 20 grand slam, namun Djokovic merasa masih mampu untuk mengoleksi satu grand slam lagi dari wimbledon.
(*/saf/tennis)
(lam)