home masjid

Tujuh Ujian Pecinta Tuhan: Menakar Keikhlasan Cinta kepada Allah Taala

Jum'at, 18 Juli 2025 - 17:00 WIB
Baginya, cinta itu bukan sekadar pengakuan, tapi kerja seumur hidup. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah masjid kecil di pinggiran Kota Baghdad, seribu tahun silam, seorang lelaki bernama Abu Hamid Al-Ghazali atau Imam al-Ghazali menundukkan kepala dalam sujud panjang. Di ujung malam yang dingin itu, ia menulis sebuah buku yang kelak dikenang sebagai salah satu magnum opus dunia Islam: Ihya Ulumiddin. Salah satu bagian ringkas namun sarat makna dari karya itu kemudian dikenal sebagai The Alchemy of Happiness, atau dalam terjemahan Indonesia: Kimia Kebahagiaan.

Di antara untaian hikmah di dalamnya, Al-Ghazali memaparkan ujian bagi mereka yang mengaku mencintai Allah. Baginya, cinta kepada Tuhan bukan sekadar kata-kata manis yang meluncur dari bibir, tetapi sebuah jalan panjang penuh pembuktian. Ia menyebut tujuh ujian yang bisa menjadi cermin bagi para pencari Tuhan.

Ujian pertama, tulisnya, adalah kerelaan menghadapi kematian. “Tak ada seorang ‘teman’ pun yang ketakutan ketika akan bertemu dengan ‘teman’-nya,” tulis Al-Ghazali, merujuk pada sabda Nabi: “Siapa yang ingin melihat Allah, Allah pun ingin melihatnya.” Orang yang cinta, meski takut karena belum siap, akan giat mempersiapkan diri untuk bertemu dengan-Nya.

Di ujian kedua, Al-Ghazali menantang para pecinta Tuhan untuk rela mengorbankan kehendaknya sendiri demi kehendak-Nya. Ia mengutip ucapan Wali Fudhail yang sinis, tetapi jujur: “Jika ditanya, ‘Apakah engkau mencintai Allah?’ maka diamlah. Sebab jika engkau berkata tidak, engkau kafir; jika berkata iya, tetapi perbuatanmu tak membuktikannya, engkau berdusta.”

Baca juga: Kimia Kebahagiaan Imam Al-Ghazali: Tirai yang Menyelubungi Allah

Cinta yang sejati juga diuji dengan ujian ketiga: apakah dzikir, ingatan pada Allah, secara alami terus segar dalam hati? Orang yang mencintai akan terus mengingat, bahkan saat yang diingat itu jauh. Di sini Al-Ghazali mengingatkan, kadang cinta kepada cinta itu sendiri yang lebih dahulu tumbuh sebelum cinta itu sempurna.

Di ujian keempat, cinta kepada Tuhan juga mesti berwujud pada kecintaan terhadap firman-Nya, utusan-Nya, sesama makhluk-Nya, bahkan semesta ciptaan-Nya. Pecinta sejati mencintai semua karya Sang Pencipta.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya