home masjid

Siapa Menulis Taurat? Jejak di Balik Lima Kitab Menurut Maurice Bucaille

Selasa, 22 Juli 2025 - 16:00 WIB
Ini adalah permainan manusia terhadap firman Tuhan. Sebuah permainan yang meninggalkan jejak hingga kini. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah pagi abad XVIII, Jean Astruc, tabib Raja Louis XV, menulis dengan tangan gemetar: “Ada dua teks berbeda dalam Kejadian.” Sebuah kalimat yang tampak sederhana, tapi pada zamannya terasa seperti petir di rumah ibadah. Taurat — yang selama berabad-abad diyakini sebagai karya tunggal Nabi Musa — ternyata menyimpan banyak tangan, banyak suara, dan banyak kontradiksi.

Astruc bukanlah orang pertama yang curiga. Sejak abad XII, Aben Ezra sudah bergumam: “Bagaimana mungkin Musa menulis tentang kematiannya sendiri?” Namun butuh waktu enam abad untuk mendobrak tembok kepercayaan yang kokoh itu. Astruc hanya melakukan satu hal: membaca teks Kejadian dengan jeli dan menemukan dua pola. Dalam satu bagian Tuhan disebut Yahweh, di bagian lain disebut Elohim. Itu petunjuk adanya sumber yang berbeda.

Temuan Astruc membuka jalan bagi para sarjana abad XIX: Eichhorn, Ilgen, dan kemudian para pakar yang membagi Taurat (atau Pentateukh, lima kitab pertama Perjanjian Lama) ke dalam empat sumber utama: Yahwist, Elohist, Deuteronomist, dan Priestly (Sakerdotal).

Taurat — yang terdiri atas Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan — adalah kitab suci yang tidak hanya mencatat sejarah bangsa Israel dari penciptaan alam sampai kematian Musa, tetapi juga kerangka hukum sosial, agama, dan politik. Selama berabad-abad, baik Yahudi maupun Kristen meyakini bahwa Musa sendiri menulis semuanya, merujuk pada beberapa ayat seperti Keluaran 17:14: “Tulislah itu dalam kitab…”, Bilangan 33:2, dan Ulangan 31:9.

Baca juga: Al-Quran Meluruskan Taurat yang Menuduh Nabi Luth Berzina dengan Putrinya

Bahkan Yesus dalam Injil Yohanes 5:46–47 dikisahkan berkata: “Jika kamu percaya kepada Musa, kamu tentu akan percaya kepada-Ku, sebab ia menulis tentang Aku.”

Tapi kebenaran tekstual perlahan retak. Maurice Bucaille, dalam La Bible, Le Coran et la Science (1979:31–78), menyebut keretakan itu sebagai bukti bahwa kitab suci ini adalah hasil proses panjang yang melibatkan tradisi-tradisi lisan, penyusun, dan editor selama berabad-abad.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya