Jalan di Atas Air: Sebuah Kisah Sufi tentang Makna yang Melampaui Kaidah
Miftah yusufpati
Ahad, 27 Juli 2025 - 05:45 WIB
Kemampuan berjalan di atas airkarena hatinya telah ringan oleh kerinduan yang tak terucapkan dengan benar, tapi dirasakan dengan sempurna. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di tepi sebuah sungai yang tenang, seorang darwis tengah berjalan menyusuri arus waktu dan pikiran. Ia bukan sembarang sufi pengembara. Ia datang dari mazhab yang saleh dan terpelajar, terbiasa menjinakkan nafsu dengan kaidah, menyulam moral dengan akal, dan membangun menara spiritual di atas fondasi disiplin.
Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, ia melangkah dalam keheningan, tenggelam dalam renungan: tentang kebenaran mutlak, tentang suara jiwa yang bersatu dengan nama-nama Ilahi. Tapi lamunannya buyar ketika dari seberang sungai terdengar teriakan seorang darwis lain, yang tengah melantunkan dzikir dengan penuh semangat—meski terdengar keliru.
“U-ya-hu… U-ya-hu…”
Sang darwis berhenti. Ada gerak refleks dalam pikirannya: "Salah," gumamnya. Harusnya “Ya-Hu”—bukan “U-ya-hu”. Ia merasa terpanggil. Dalam tradisi mazhabnya, membiarkan kekeliruan adalah lalai, menegur adalah pahala.
Lalu ia sewa perahu, menyeberang ke pulau tempat sang pengucap tinggal. Di sana, dalam gubuk sederhana beratap alang-alang, ditemuinya sosok lelaki tua yang tengah bergerak-gerak, berusaha menyelaraskan napas dengan mantra yang—bagi telinga darwis ini—masih sumbang.
Baca juga: Kisah Sufi Humor Nasrudin Hoja: Sepotong Keju
Dengan sopan dan percaya diri, ia berkata, “Sahabat, saya datang untuk menyampaikan bahwa dzikirmu keliru. Bukan ‘U-ya-hu’, tapi ‘Ya-Hu’. Pengucapan itu penting. Itu pintu bagi makna yang lebih tinggi.”
Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, ia melangkah dalam keheningan, tenggelam dalam renungan: tentang kebenaran mutlak, tentang suara jiwa yang bersatu dengan nama-nama Ilahi. Tapi lamunannya buyar ketika dari seberang sungai terdengar teriakan seorang darwis lain, yang tengah melantunkan dzikir dengan penuh semangat—meski terdengar keliru.
“U-ya-hu… U-ya-hu…”
Sang darwis berhenti. Ada gerak refleks dalam pikirannya: "Salah," gumamnya. Harusnya “Ya-Hu”—bukan “U-ya-hu”. Ia merasa terpanggil. Dalam tradisi mazhabnya, membiarkan kekeliruan adalah lalai, menegur adalah pahala.
Lalu ia sewa perahu, menyeberang ke pulau tempat sang pengucap tinggal. Di sana, dalam gubuk sederhana beratap alang-alang, ditemuinya sosok lelaki tua yang tengah bergerak-gerak, berusaha menyelaraskan napas dengan mantra yang—bagi telinga darwis ini—masih sumbang.
Baca juga: Kisah Sufi Humor Nasrudin Hoja: Sepotong Keju
Dengan sopan dan percaya diri, ia berkata, “Sahabat, saya datang untuk menyampaikan bahwa dzikirmu keliru. Bukan ‘U-ya-hu’, tapi ‘Ya-Hu’. Pengucapan itu penting. Itu pintu bagi makna yang lebih tinggi.”