LANGIT7.ID-Setelah menempuh perjalanan jauh yang melelahkan,
Nasrudin Hoja akhirnya pulang ke rumah. Debu masih menempel di jubahnya, tetapi senyumnya tak pernah pergi. Di ambang pintu, istrinya menyambut dengan penuh suka cita.
"Aku punya sepotong keju untukmu," kata sang istri dengan senyum hangat.
"Alhamdulillah!" seru Nasrudin sambil menggosok perutnya yang lapar. "Aku suka keju. Keju itu bagus untuk kesehatan perut."
Istrinya tersenyum senang, lalu menyajikan keju dengan sepiring roti dan segelas air. Nasrudin pun makan dengan lahap, lalu kembali berangkat entah ke mana—seperti biasa, tanpa banyak penjelasan.
Beberapa minggu kemudian, Nasrudin kembali. Kali ini ia tampak lebih kurus, sedikit dekil, dan lebih bijaksana, setidaknya menurut dirinya sendiri.
Begitu melihat pintu rumah terbuka, ia langsung bertanya, “Adakah keju untukku?”
"Tidak ada lagi," jawab istrinya, "Yang kemarin itu potongannya yang terakhir."
Baca juga: Kisah Humor Sufi: Nasrudin dan Pencuri yang Malang Nasrudin mengangguk pelan. “Yah... tidak apa-apa,” katanya santai. “Lagi pula, keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi.”
Istrinya memicingkan mata. “Tunggu dulu. Waktu itu kau bilang keju baik untuk perut. Sekarang tidak baik untuk gigi. Jadi mana yang benar?”
Nasrudin tersenyum bijak, dengan wajah seolah sedang hendak menyampaikan rahasia agung kehidupan.
"Itu tergantung," katanya pelan, "Tergantung... apakah kejunya ada atau tidak."
Di antara tawa istrinya yang mendecak kagum—atau kesal—Nasrudin pun masuk ke rumah. Ia tidak selalu membawa kebenaran, tapi hampir selalu membawa senyuman.
Hikmah dari kisah tersebut adalah:
Kebenaran Kadang Fleksibel—tergantung Kepentingan
Nasrudin mengubah ucapannya tergantung situasi: ketika keju tersedia, ia berkata keju itu baik untuk perut. Tapi ketika tidak ada, ia bilang keju tidak baik untuk gigi. Ini menunjukkan bagaimana manusia sering menyesuaikan prinsip atau pendapat dengan kenyataan yang menguntungkan atau tidak bagi dirinya.
Pelajaran utamanya: Manusia kerap membenarkan sesuatu bukan karena itu benar secara objektif, tapi karena sesuai dengan kepentingan atau keadaan saat itu. Kebenaran bisa lentur di tangan orang yang punya selera pragmatis.
Baca juga: Kisah Humor Sufi: Jubah Nasrudin Hoja yang Jatuh Hikmah lainnya:
1. Kritik halus terhadap relativisme moral.
Nasrudin mengolok-olok kecenderungan manusia untuk “memutar logika” sesuai situasi. Ia tidak bohong, tapi juga tidak jujur sepenuhnya—karena yang ia utamakan bukan keju, melainkan kepekaan melihat situasi.
2. Kecerdasan batin dalam menyikapi ketiadaan.
Alih-alih marah karena keju tidak tersedia, Nasrudin merespons dengan kelakar filosofis. Ini mengajarkan *lapang dada dan humor* saat keinginan tak terpenuhi.
3. Sufi belajar dari kenyataan, bukan teori.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Jika Kau Percaya Ia Beranak, Percayalah Ia Bisa Mati Bagi seorang sufi seperti Nasrudin, kebenaran bukan hanya soal “apa yang ideal”, tapi juga apa yang terjadi—dan bagaimana menyikapinya dengan hati yang ringan.
“Bukan soal keju ada atau tidak, tapi apakah hatimu ikut mencair atau mengeras karena keju itu.”
Kalimat itu mungkin tidak diucapkan Nasrudin, tapi pasti ia akan tersenyum jika mendengarnya.
(mif)