Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 10 Mei 2026
home masjid detail berita

Kisah Abu Nawas dan Keledai yang Menjadi Kambing

miftah yusufpati Selasa, 12 Agustus 2025 - 15:34 WIB
Kisah Abu Nawas dan Keledai yang Menjadi Kambing
Fakta bahwa hewan itu adalah keledai tidak berubah, walau disebut kambing berkali-kali Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Tanpa pikir panjang—dan tanpa pertimbangan panjang-lebar seperti biasanya—Abu Nawas memutuskan untuk menjual keledai kesayangannya. Bukan karena bosan, apalagi karena keledainya tak patuh, tapi semata karena isi dapur sudah mulai berbunyi keroncongan. Bahkan suara perut anaknya lebih ramai dari pasar malam. Istrinya pun, setelah sempat menatap nanar ke arah keledai, akhirnya mengangguk juga.

"Jual saja. Yang penting besok bisa makan."

Keesokan paginya, Abu Nawas berangkat ke pasar dengan langkah berat dan kepala tegak. Ia tidak tahu bahwa empat pencuri sedang mengincarnya, bukan untuk mencuri keledainya, tapi akal sehatnya.

Di bawah pohon rindang, saat Abu Nawas tengah beristirahat sambil mengelus keledai yang setia, muncullah pencuri pertama.

"Maaf, Tuan. Apakah Anda menjual kambing ini?"

Abu Nawas terkejut. “Kambing? Ini keledai, Bung!”

“Kalau yakin itu keledai, coba tanya orang pasar. Jangan-jangan matamu kelilipan rumput.”

Baca juga: Kisah Abu Nawas dan Teka-teki Dua Kembar

Pencuri itu berlalu, meninggalkan Abu Nawas yang mulai mengernyit.

Beberapa langkah kemudian, pencuri kedua datang menyusul.

“Hai, Abu Nawas! Tak pernah kulihat ada orang menunggangi kambing. Aneh sekali kau ini.”

“Ini bukan kambing. Ini keledai!” sahut Abu Nawas kesal.

“Kalau ini keledai, aku tidak akan bilang begitu. Tapi ya sudahlah, pasar akan membuktikan.”

Abu Nawas melanjutkan perjalanan sambil menatap keledainya dengan curiga. Mungkinkah...?

Tak lama, pencuri ketiga muncul. “Wahai Abu Nawas, mau dibawa ke mana kambing kurusmu itu?”

Abu Nawas terdiam. Ini sudah orang ketiga. Ia menatap keledai itu dari depan, dari samping, dari belakang. Telinganya panjang, badannya besar. Tapi... kambing?

Pencuri itu memperkuat serangannya. “Sudahlah. Mau kau bilang kuda pun, kami tahu itu kambing. Kambiiiiiing!”

Kepala Abu Nawas mulai pusing. Di bawah pohon berikutnya, ia istirahat lagi. Muncullah pencuri keempat.

“Wah, bagus benar kambing ini. Boleh saya beli?”

Baca juga: Kisah Hikmah Abu Nawas: Tabib Tanpa Obat

“Kau juga bilang ini kambing?” tanya Abu Nawas lirih.

“Lho, jelas. Siapa bilang ini keledai? Kalau boleh, aku beli tiga dirham.”

Abu Nawas—dengan akal sehat yang tersisa tinggal seujung kuku—mengangguk. "Baiklah." Dan pulanglah ia membawa tiga dirham dan sejuta penyesalan.

Sampai di rumah, seperti yang bisa ditebak, istrinya meledak seperti kuali meletus.

“Cuma tiga dirham? Karena mereka bilang itu kambing?! Itu keledai satu-satunya yang bisa buat kita ke pasar!”

Abu Nawas menunduk. Tapi alih-alih membalas ocehan, ia mulai berpikir. Kali ini, serius.

---

Beberapa hari kemudian, desa gempar. Abu Nawas punya tongkat ajaib! Katanya, cukup dengan mengacungkannya, ia bisa makan gratis, belanja gratis, bahkan tak perlu antre di kamar mandi umum.

Empat pencuri yang merasa lebih cepat kehilangan uang daripada mencurinya, langsung mendekat.

“Tongkat itu dijual, Abu Nawas?”

“Tidak,” jawabnya singkat. Lalu menambahkan, “Kecuali kalian berani bayar mahal.”

“Berapa?”

“Seratus dinar emas.”

“Deal!”

Dengan wajah meyakinkan ala pesulap, Abu Nawas menyerahkan tongkat ajaibnya.

Para pencuri girang bukan main. Mereka segera menuju warung, makan seenaknya, minum semaunya. Lalu saat ditagih bayar, mereka hanya mengacungkan tongkat.

Baca juga: Kisah Hikmah Abu Nawas: Peringatan Aneh si Raja Yahudi

Pemilik warung langsung memanggil sapu lidi.

“Maksud kalian apa? Bayar makanan!”

“Kami punya tongkat ajaib! Abu Nawas juga makan di sini tanpa bayar!”

“Dia menitipkan uangnya sebelumnya! Kalian pikir saya dukun?!”

Para pencuri kabur terbirit-birit sambil menyesali nasibnya. Mereka kini sadar, tongkat itu bukan tongkat wasiat… tapi tongkat pengingat: Jangan pernah menipu Abu Nawas dua kali.

---

Hikmah dari kisah tersebut:

1. Jangan mudah terpengaruh oleh opini orang banyak

Abu Nawas yang awalnya yakin bahwa hewan yang dibawanya adalah keledai, menjadi ragu setelah mendengar pernyataan berulang-ulang dari empat pencuri. Ini menggambarkan bahwa pendirian dan logika bisa runtuh jika seseorang terlalu mudah terpengaruh oleh suara mayoritas tanpa berpikir kritis.

2. Kecerdikan bisa mengalahkan kelicikan

Meskipun awalnya Abu Nawas tertipu dan mengalami kerugian, ia tidak tinggal diam. Dengan kecerdasannya, ia menyusun strategi balasan yang membuat para pencuri justru mengalami kerugian yang lebih besar. Ini mengajarkan bahwa akal sehat dan kreativitas bisa menjadi alat balas yang lebih ampuh daripada kekerasan.

Baca juga: Kisah Humor Abu Nawas: Ayam Jantan di Kolam Raja

3. Balas dendam terbaik adalah dengan cara elegan

Abu Nawas tidak menggunakan kekerasan atau mencari pencuri itu untuk berkelahi. Ia memilih cara cerdas dan lucu untuk membuat mereka menyesali perbuatannya, sekaligus mendapatkan kembali uang yang lebih besar. Ini adalah bentuk pembalasan yang mendidik, bukan merusak.

4. Jangan serakah dan tergiur oleh hal yang tampaknya mudah

Para pencuri tertipu karena ketamakan mereka sendiri. Mereka mengira bisa mendapatkan kekayaan instan dengan membeli tongkat ajaib, tanpa menyadari bahwa mereka sedang dikelabui. Ini menjadi pelajaran tentang pentingnya kewaspadaan terhadap iming-iming yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan.

5. Kebenaran tidak berubah meski dipelintir berulang-ulang

Fakta bahwa hewan itu adalah keledai tidak berubah, walau disebut kambing berkali-kali. Ini mengingatkan bahwa kebenaran tetap kebenaran, sekalipun banyak orang mencoba memanipulasinya.

Baca juga: Kisah Baginda Meminta Abu Nawas ke Surga Mengambil Secawan Minuman dari Sungai al-Kautsar

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 10 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)