LANGIT7.ID-Hari itu matahari bersinar cerah, udara sejuk, dan tidak ada utang yang menagih. Pokoknya, cuaca sempurna untuk
healing. Maka, kawan-kawan Abu Nawas pun sepakat: “Kita jalan-jalan ke hutan wisata!”
Namun, satu masalah muncul. Mereka tahu betul, tanpa Abu Nawas, perjalanan hanya akan terasa seperti makan nasi tanpa garam—hambar dan bikin nyesel. Maka mereka beramai-ramai ke rumah Abu Nawas, seperti pasukan utusan kerajaan datang mencari penyelamat.
"Abu Nawas, ikutlah!" kata mereka, "Tanpamu, hutan akan terasa seperti kantor pajak, menegangkan dan penuh teka-teki."
Abu Nawas yang sedang menjemur jubah dengan wajah penuh damai pun mengangguk, “Baiklah. Tapi kalian yang traktir makan siang.”
Berangkatlah mereka naik keledai masing-masing, sambil bersenda gurau dan balapan siapa yang paling cepat jatuh dari pelana. Tapi kegembiraan itu mendadak berhenti ketika mereka sampai di sebuah pertigaan jalan. Yang satu ke kanan, satu lagi ke kiri. Dan tak ada Google Maps!
“Wahai kawan-kawan,” kata Abu Nawas, “Hutan yang kita tuju adalah hutan wisata, bukan hutan yang dihuni binatang yang bahkan belum ada di ensiklopedia.”
Baca juga: Kisah Hikmah Abu Nawas: Tabib Tanpa Obat Kawan Abu Nawas yang paling percaya diri berkata, “Tenang, aku tahu dua orang kembar yang tinggal dekat sini. Yang satu selalu jujur, yang satu selalu bohong. Tapi anehnya, mereka cuma mau menjawab satu pertanyaan saja.”
“Bagus,” kata Abu Nawas, “Tapi... kamu tahu yang mana yang jujur?”
“Enggak.”
“Bagus,” kata Abu Nawas lagi, “Ini akan seru.”
Mereka pun istirahat dulu sambil makan daging dengan madu. Abu Nawas makan perlahan, seolah-olah setiap gigitan adalah bagian dari rencana besar.
Setelah kenyang, mereka berangkat ke rumah si kembar. Salah satu dari mereka keluar.
"Aku sibuk,” katanya galak, “Cuma satu pertanyaan. Tidak lebih. Jangan kayak wartawan gosip.”
Abu Nawas menghampiri dan berbisik sesuatu. Si kembar menjawab dengan berbisik juga. Lalu Abu Nawas mengangguk dan berbalik ke rombongan.
“Jalan yang benar adalah jalan sebelah kanan,” kata Abu Nawas mantap.
“Lho, kok kamu yakin? Kamu kan nggak tahu itu si jujur atau si bohong?” tanya seorang kawannya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
Baca juga: Kisah Hikmah Abu Nawas: Peringatan Aneh si Raja Yahudi “Karena tadi aku bertanya: ‘Apa yang akan dikatakan saudaramu jika aku bertanya jalan mana menuju hutan wisata?’ Dan dia menjawab jalan kiri. Maka aku ambil jalan kanan.”
Semua melongo, seperti baru saja diberi pertanyaan ujian negara.
Abu Nawas menjelaskan, “Kalau itu si jujur, dia pasti tahu saudaranya akan bohong dan menunjuk ke jalan salah. Jadi dia akan menjawab kebohongan saudaranya, yaitu jalan kiri.”
“Kalau itu si bohong, dia tahu saudaranya akan jujur dan menunjuk jalan yang benar, yaitu kanan. Tapi karena dia bohong, dia akan sebut jalan kiri juga.”
“Pokoknya, siapa pun yang aku tanya, jawabannya pasti kebalikannya. Maka aku tinggal ambil lawannya.”
Kawan-kawan Abu Nawas terdiam, lalu serempak berteriak, “Kenapa otakmu nggak dijual eceran?!”
Abu Nawas tertawa, “Kalau dijual, nanti kalian nggak punya alasan ngajak aku ikut jalan-jalan.”
Baca juga: Kisah Humor Abu Nawas: Ayam Jantan di Kolam Raja ----
Hikmah kisah ini:
Terkadang hidup memang penuh teka-teki, tapi logika yang cerdas (dan sedikit rasa lapar setelah makan daging madu) bisa membuka jalan keluar. Dan tentu saja, jangan pernah remehkan orang yang suka diam tapi kalau bicara bisa membuatmu merasa seperti baru saja kalah debat dengan kambing.
1. Berpikir Logis di Situasi Sulit: Kisah ini mengajarkan pentingnya berpikir jernih dan logis saat menghadapi kebingungan atau keraguan. Abu Nawas menunjukkan bahwa dengan pendekatan akal yang tepat, masalah yang tampak rumit pun bisa diselesaikan.
2. Jangan Terburu-buru dalam Mengambil Keputusan: Ketika rombongan ragu-ragu di pertigaan jalan, Abu Nawas tidak gegabah. Ia memilih berhenti, beristirahat, dan memikirkan jalan keluar terbaik. Ini mengajarkan kita agar tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, terutama saat menyangkut keselamatan atau hal penting.
3. Menghindari Sesuatu yang Meragukan Lebih Baik: Abu Nawas menyarankan untuk meninggalkan perjalanan bila ada keraguan. Ini selaras dengan prinsip hikmah Islam: "Tinggalkanlah hal yang meragukanmu kepada hal yang tidak meragukanmu."* (HR. Tirmidzi). Dalam hidup, kehati-hatian adalah bentuk kecerdasan.
4. Ketepatan Pertanyaan Menentukan Kebenaran Jawaban: Satu pertanyaan yang cerdik bisa menjawab dua kemungkinan sekaligus. Ini mengajarkan pentingnya mengajukan pertanyaan yang tepat—bukan hanya bertanya, tapi tahu apa dan bagaimana bertanya.
5. Sahabat Sejati Membawa Manfaat: Kawan-kawan Abu Nawas tahu bahwa perjalanan akan lebih baik bila bersama orang cerdas dan menyenangkan. Ini menunjukkan nilai memiliki teman yang tidak hanya lucu, tapi juga bijaksana.
6. Humor Bisa Menyampaikan Kebijaksanaan: Meski kisah ini dibungkus dengan humor, pesan moralnya sangat dalam. Ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan tidak selalu harus kaku atau serius, kadang justru lebih mengena bila disampaikan dengan senyuman.
(mif)