LANGIT7.ID-Langkah Musa gontai. Nafasnya pendek, tubuhnya basah oleh peluh perjalanan panjang. Di balik sorot matanya tersimpan rasa cemas yang tak mudah dipadamkan: ia baru saja meninggalkan Mesir, negeri yang selama ini menjadi rumah sekaligus jerat. Semua bermula dari sebuah perkelahian yang berakhir tragis: seorang lelaki Mesir tewas di tangannya (QS. al-Qashash: 15). Kini, ia menjadi buronan. Dari istana Firaun yang megah, Musa melangkah menuju pengasingan yang sunyi.
Perjalanan itu membawanya ke Madyan, sebuah negeri asing di tepi padang pasir. Di sanalah, pada sebuah sumber air, takdir baru menantinya. “
Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya)” (QS. al-Qashash: 23).
Kerumunan lelaki tampak sibuk memberi minum ternak mereka. Dua perempuan muda berdiri di belakang, menahan kawanan kambing agar tak maju. Musa mendekat, lalu bertanya, “
Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Jawaban mereka lirih, tetapi tegas: “Kami tidak dapat meminumkan ternak kami sebelum para penggembala itu memulangkan ternaknya, sedang bapak kami adalah seorang tua yang telah lanjut usia” (QS. al-Qashash: 23).
Baca juga: Nabi Khidir: Guru Nabi Musa di Persimpangan Dua Lautan Kalimat itu singkat, namun mengandung pesan kuat: kehormatan, kesabaran, dan tanggung jawab. Mereka menunggu, bukan berebut. Mereka menjunjung adab di tengah dunia yang dikuasai fisik dan kekuatan. Tafsir Ibn Katsir menyebut, kedua perempuan itu adalah putri Nabi Syu’aib (Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jilid 6).
Musa menghela napas. Tak ada banyak kata, hanya tindakan. Ia maju, menyingkirkan batu besar yang menutup sumur, batu yang konon hanya bisa digeser oleh beberapa orang lelaki. Dengan tangan seorang mantan pangeran yang kini jadi pelarian, Musa memberi minum ternak mereka. Tanpa pamrih, tanpa janji imbalan. Quraish Shihab menulis, kisah ini mengajarkan bahwa “kebaikan sejati lahir tanpa transaksi, tetapi karena dorongan kemanusiaan” (Shihab, Wawasan al-Qur’an, 1996).
Setelah semua selesai, Musa menjauh. Ia mencari tempat teduh, bersandar di bawah sebatang pohon. Di sanalah, untuk pertama kalinya sejak terusir dari Mesir, ia melantunkan doa yang mengguncang jiwa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” (QS. al-Qashash: 24). Sayyid Quthb menyebut doa ini sebagai “permohonan tulus yang lahir dari hati yang pasrah, tetapi tetap berharap pada rahmat Tuhan” (Quthb, Fi Zhilal al-Qur’an, jilid 4).
Tak lama, langkah ringan terdengar. Salah satu perempuan itu datang, berjalan dengan malu-malu. “Sesungguhnya bapakku memanggilmu agar ia bisa memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami” (QS. al-Qashash: 25). Musa bangkit dan mengikutinya. Pertemuan ini bukan sekadar jamuan makan siang bagi seorang musafir.
Baca juga: Sapi, Darah, dan Seorang Anak yang Berbakti: Kisah di Era Nabi Musa Di rumah Syu’aib, Musa menemukan keamanan, pekerjaan, dan kelak, seorang pendamping hidup. Ia bekerja pada Nabi Syu’aib selama delapan atau sepuluh tahun sebelum kembali ke Mesir membawa risalah kenabian (Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jilid 1).
Apa makna kisah ini bagi dunia modern yang riuh oleh keserakahan dan pamer kekuasaan? Setidaknya tiga hal. Pertama, Musa mengajarkan bahwa kebaikan sejati lahir tanpa pamrih. Ia menolong dua perempuan itu bukan untuk imbalan, melainkan karena nurani. Kedua, kesabaran perempuan Madyan menegaskan bahwa kehormatan tak ternilai oleh percepatan. Mereka memilih menunggu, bukan memaksa. Ketiga, doa Musa mengajarkan rendah hati: meminta kebaikan, bukan kemewahan.
Ketika para pemimpin hari ini sibuk mengoleksi mobil mewah dan mempertontonkan gaya hidup elitis, kisah Musa di Madyan mengingatkan: kekuasaan sejati bukanlah kemampuan menyingkirkan lawan, tetapi kesanggupan menolong yang lemah. Bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling peduli. Dan seperti pohon yang menaungi Musa sore itu, dunia selalu punya ruang teduh bagi mereka yang ikhlas berjalan di jalan kebaikan.
Baca juga: Doa-doa Nabi Musa yang Tak Lelah Melawan Fir’aun(mif)