Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 10 Mei 2026
home masjid detail berita

Kisah Kocak Abu Nawas tentang Kompetisi Mimpi Paling Indah

miftah yusufpati Rabu, 13 Agustus 2025 - 16:00 WIB
Kisah Kocak Abu Nawas tentang Kompetisi Mimpi Paling Indah
Abu Nawas menunjukkan bahwa spiritualitas sejati bukan sekadar simbol, tapi menyatu dengan akhlak dan kebijaksanaan dalam bertindak. Ilustarsi: Ist
LANGIT7.ID-Di suatu sore yang cerah, ketika burung-burung bersiul santai dan langit sedang malas mendung, datanglah dua orang asing ke rumah Abu Nawas. Satunya mengenakan jubah putih dengan kalung manik-manik kayu menggantung di leher, satunya lagi berkain kuning, membawa tasbih dan senyum licik. Mereka adalah seorang Pendeta dan seorang Yogis, dua tokoh spiritual lintas agama yang tiba-tiba ingin... bersekongkol.

“Wahai Abu Nawas,” kata si Yogis membuka percakapan setelah Abu Nawas selesai salat Dhuha, “kami ingin mengajakmu dalam sebuah perjalanan suci. Bukan sembarang perjalanan, ini spiritual journey. Kau tahu, yang melibatkan renungan, penderitaan, dan lapar.”

“Ah, lapar? Kalau lapar, itu tiap hari,” jawab Abu Nawas polos. “Tapi baiklah, kalau demi kebajikan, aku ikut.”

Esoknya mereka bertemu di warung teh, tak sarapan, tak membawa bekal, dan tentu saja tak membawa dompet. Ketiganya berangkat dengan penampilan paling religius yang bisa dibayangkan: Pendeta dengan jubah salib, Yogis dengan kain kuning semata kaki, dan Abu Nawas dengan jubah Sufi... dan sandal jepit.

Baca juga: Kisah Tongkat Ajaib Abu Nawas

Di tengah perjalanan, rasa lapar mulai menari-nari di perut mereka. Maka seperti sudah direncanakan, Pendeta berkata, “Wahai Abu Nawas, karena kami sedang berpuasa dan hendak melakukan kebaktian, bagaimana kalau engkau saja yang mencari derma?”

“Baik,” jawab Abu Nawas. Dalam hatinya, ia mulai curiga: Kenapa aku yang disuruh kerja keras sementara mereka berzikir kenyang?

Tapi Abu Nawas tetap pergi. Ia keliling dusun, menebar senyum dan cerita mulia, lalu pulang membawa makanan cukup untuk tiga orang.

“Mari kita makan,” katanya ceria. Tapi…

“Maaf,” kata Pendeta, “kami sedang berpuasa. Makannya besok pagi.”

“Tapi aku mau makan bagianku saja.”

“Tidak bisa,” potong Yogis. “Dalam perjalanan suci, kita harus seirama. Makan juga harus serempak.”

“Seirama... tapi cari makan suruh aku?” Abu Nawas mulai naik darah. Tapi ia tersenyum. “Baiklah,” katanya akhirnya, “bagaimana kalau kita adakan sayembara mimpi? Siapa yang mimpinya paling indah, dapat bagian terbanyak.”

Pendeta dan Yogis langsung setuju. Mereka pikir, dalam soal mimpi dan spiritualitas, Abu Nawas tak akan bisa menandingi kami.

Baca juga: Kisah Abu Nawas dan Keledai yang Menjadi Kambing

Malam pun turun. Mereka tidur.

Abu Nawas pura-pura tidur. Begitu mereka mendengkur—yang satu halus seperti dengung lebah, yang satu seperti suara sapi kesurupan—Abu Nawas pelan-pelan bangun… dan menghabiskan semua makanan tanpa sisa. Kenyang luar biasa. Ia tidur dengan senyum damai.

Pagi harinya, Pendeta bangun dengan wajah berbinar.

“Mimpiku luar biasa!” katanya. “Aku bertemu pendiri agamaku! Ia memberkatiku dengan cahaya dan kebijaksanaan!”

Yogis tak mau kalah. “Aku bermimpi memasuki Nirvana. Damai, hening, penuh bunga teratai dan... kolam susu!” katanya sambil menelan ludah.

Kini giliran Abu Nawas. Ia menguap lebar, lalu berkata tenang, “Aku bermimpi bertemu Nabi Daud. Beliau menanyai, ‘Wahai Abu Nawas, apakah engkau berpuasa?’ Kujawab, ‘Ya.’ Lalu beliau berkata, ‘Segeralah berbuka, malam telah datang.’ Maka aku pun bangun... dan menyantap semuanya.”

Pendeta dan Yogis saling pandang. Wajah mereka pucat seperti kain kafan. Abu Nawas hanya tersenyum, mengelus perut. “Begitulah,” katanya kalem, “jangan main-main dengan orang lapar yang juga bisa berpikir.”

Baca juga: Kisah Abu Nawas dan Teka-teki Dua Kembar

Hikmah Cerita:

Kadang orang yang terlihat sederhana dan suka bercanda, justru lebih bijak dan cerdas daripada mereka yang sok suci. Dan satu pelajaran penting: jangan mempermainkan orang yang lapar, apalagi kalau dia bernama Abu Nawas.

1. Kecerdikan dapat mengalahkan tipu muslihat

Abu Nawas berhasil membalikkan rencana licik Pendeta dan Ahli Yoga yang hendak mempermainkannya. Dengan kecerdikannya, ia justru mengelabui mereka dengan cara yang jenaka namun tetap adil secara moral.

2. Jangan menyuruh orang bekerja lalu menafikan haknya

Pendeta dan Ahli Yoga meminta Abu Nawas mengumpulkan derma untuk mereka bertiga, namun menolak membagi makanan yang jelas-jelas hasil jerih payah Abu Nawas. Ini menjadi pelajaran penting tentang keadilan dan hak orang yang bekerja.

Baca juga: Kisah Hikmah Abu Nawas: Tabib Tanpa Obat

3. Jangan mempermainkan atau merendahkan orang lain

Niat memperdaya orang saleh seperti Abu Nawas justru berbalik menjadi pelajaran bagi mereka sendiri. Ini mencerminkan bahwa niat buruk akan kembali kepada pelakunya.

4. Sikap sabar bisa disalurkan lewat cara yang cerdas dan berkelas

Alih-alih marah atau bertindak kasar saat dizalimi, Abu Nawas memilih cara kreatif dan humoris untuk membela diri dan menegakkan haknya.

5. Kebijaksanaan lebih tinggi daripada kebaktian yang palsu

Pendeta dan Ahli Yoga memamerkan ritual keagamaan mereka tanpa ketulusan. Abu Nawas menunjukkan bahwa spiritualitas sejati bukan sekadar simbol, tapi menyatu dengan akhlak dan kebijaksanaan dalam bertindak.

Baca juga: Kisah Hikmah Abu Nawas: Peringatan Aneh si Raja Yahudi

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 10 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)