Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 13 Mei 2026
home masjid detail berita

Bubur Haris dan Tipu Muslihat Abu Nawas

miftah yusufpati Jum'at, 15 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Bubur Haris dan Tipu Muslihat Abu Nawas
Di balik kelakar Abu Nawas, tersimpan pesan tajam soal kekuasaan yang buta karena laporan palsu, pentingnya pemimpin turun langsung ke rakyat, dan kekuatan akal sehat. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suatu hari, Abu Nawas baru saja keluar dari istana setelah memenuhi undangan Baginda Raja. Tapi, alih-alih langsung pulang ke rumah, ia memilih menyusuri perkampungan orang-orang badui. Ini bukan hal aneh, sebab Abu memang punya kebiasaan nyeleneh: belajar adat istiadat sambil keluyuran.

Di tengah perjalanan, Abu Nawas melihat sebuah rumah besar dari mana terdengar suara riuh rendah seperti pasar malam. Penasaran, ia mendekat dan mendapati bahwa tempat itu adalah warung bubur. Tapi bukan sembarang bubur—namanya bubur haris, khas petani badui. Lelah berjalan, Abu tidak masuk, melainkan memilih beristirahat di bawah pohon rindang di pinggiran desa. Angin sejuk, pohon rindang, dan perut kenyang membuat Abu tak sadar tertidur.

Brak!

Ia terbangun dengan kepala benjol dan tubuh terkapar di lantai tanah. Saat membuka mata, Abu mendapati dirinya berada dalam sebuah ruangan pengap penuh jeruji besi. "Astaghfirullah! Penjara darimana ini?"

Tak lama, seorang lelaki badui bertubuh raksasa muncul dengan piring bubur di tangan. "Makan ini!" katanya galak.

"Sebentar... Kenapa aku di sini?" tanya Abu waspada.

"Kau akan kami sembelih. Dagingmu akan kami campur dalam bubur haris."

"Hah!? Jadi bubur yang dijual di desa tadi...?"

"Ya, bubur manusia. Lezat, gurih, dan kaya protein!"

Baca juga: Kisah Kocak Abu Nawas: Ketika Baginda Raja Meminta Dibangunkan Istana di Awang-Awang

Abu Nawas tercekat. Ia tak habis pikir: bagaimana mungkin desa di bawah kekuasaan Baginda Raja bisa menjadi sarang kanibalisme? Mungkin para menteri cuma sibuk menulis laporan manis-manis saja.

Malam itu Abu tidak tidur. Perut lapar, kepala pusing, dan nyawa di ujung pedang. Tapi otaknya tetap encer. Keesokan harinya, saat si badui datang hendak menyembelih, Abu berkata:

"Tubuhku ini kurus, tak akan cukup untuk satu hari makan. Tapi aku punya teman bertubuh gendut yang dagingnya bisa kalian pesta selama lima hari!"

Si badui tergoda. Ia pun melepaskan Abu yang segera melesat ke istana dan langsung menghadap Baginda.

"Ada apa Abu Nawas? Kali ini kau datang tanpa dipanggil?" tanya Baginda heran.

"Ampun Tuanku, hamba baru saja dari sebuah desa yang sangat indah. Buburnya lezat, hawanya sejuk, penduduknya... ramah," jawab Abu penuh kode.

"Aku ingin ke sana!" kata Baginda.

"Tapi, Tuanku harus menyamar jadi rakyat biasa."

"Kenapa?"

Baca juga: Kisah Kocak Abu Nawas tentang Kompetisi Mimpi Paling Indah

"Karena penduduknya sangat pemalu. Bila tahu yang datang raja, mereka bisa sembunyi semua."

Singkat cerita, Baginda berangkat bersama Abu Nawas ke desa tersebut. Ia makan bubur haris dengan lahap dan beristirahat di bawah pohon rindang yang disukai Abu. Tak lama, Baginda pun tertidur.

Dan seperti deja vu: Brak! Baginda terbangun di sebuah penjara pengap, dengan seorang badui mengacungkan pedang.

"Kau akan kami sembelih. Bubur haris edisi istimewa: Raja Bagdad!" kata si badui.

Baginda pucat pasi. Ia mencoba berpikir cepat. "Kalau kau hanya dapat lima puluh dirham dari bubur, aku bisa beri kau lima ratus dirham hanya dari menjual satu topi."

"Serius?"

"Sangat serius. Bawa aku kain dan alat jahit. Aku akan buat topi yang bisa kau jual ke istana."

Pagi harinya, badui itu membawa topi ke istana dan menjualnya pada Menteri Farhan. Tapi topi itu punya rahasia: hiasan sulamannya adalah surat dari Baginda yang memohon pertolongan!

Farhan pun mengerahkan seribu prajurit ke desa tersebut. Dalam waktu singkat, Baginda diselamatkan, dan seluruh desa badui ditangkap.

"Untung saja Abu Nawas punya akal!" seru Baginda.

"Tapi dia juga yang menyeret Tuanku ke sarang kanibal!" timpal Farhan.

"Betul. Maka dia harus dihukum!" sahut Baginda.

"Hukuman mati!" kata Farhan.

Baginda tersenyum, "Ya... hukuman mati. Kita lihat, apakah dia bisa lolos kali ini?"

Baca juga: Kisah Tongkat Ajaib Abu Nawas
---

Hikmah Kisah:

Di balik kelakar dan kelicikan Abu Nawas, tersimpan pesan tajam soal kekuasaan yang buta karena laporan palsu, pentingnya pemimpin turun langsung ke rakyat, dan kekuatan akal sehat di atas otot dan pedang. Humor menjadi sarana kritik yang manjur, dan Abu Nawas, seperti biasa, menang bukan karena kuat, tapi karena cerdik.

Kisah ini memang dikemas dalam gaya humor, namun terselip beberapa hikmah penting yang dapat dipetik, antara lain:

1. Kecerdasan dan Kelicinan Bisa Menyelamatkan Nyawa

Abu Nawas tidak panik saat berada dalam bahaya. Ia menggunakan akalnya untuk mencari celah keluar. Ketika hampir disembelih, ia menawarkan ide yang lebih "menguntungkan" bagi para kanibal. Kecerdikan ini menyelamatkan nyawanya dan kemudian nyawa Baginda.

Pelajaran: Dalam kondisi terdesak, kemampuan berpikir cepat dan cerdas seringkali lebih berguna daripada kekuatan fisik.

2. Kebenaran Harus Diketahui Langsung oleh Pemimpin

Abu Nawas menyadari bahwa laporan para menteri kepada Baginda seringkali tidak lengkap. Ia sengaja membuat Baginda mengalami sendiri bahaya di desa kanibal agar sang raja melihat kenyataan secara langsung.

Pelajaran: Pemimpin hendaknya tidak hanya bergantung pada laporan bawahan, tapi juga perlu turun langsung untuk mengetahui keadaan rakyatnya yang sesungguhnya.

Baca juga: Kisah Abu Nawas dan Keledai yang Menjadi Kambing

3. Rakyat Cerdas adalah Aset Negara

Abu Nawas bukan hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tapi juga menyelamatkan sang raja dan rakyat dari bahaya besar (kanibalisme) yang dibiarkan tanpa pengawasan.

Pelajaran: Rakyat yang cerdas, berani, dan peduli pada kebenaran adalah aset penting dalam menjaga keadilan dan kebenaran di suatu negara.

4. Sarkasme terhadap Birokrasi dan Ketidaktahuan

Kritik halus ditujukan kepada para menteri seperti Farhan yang tidak tahu-menahu soal perkampungan berbahaya itu. Mereka lalai dan tidak menjalankan tugasnya mengawasi seluruh wilayah kerajaan.

Pelajaran: Pejabat yang malas dan tidak peka terhadap kondisi rakyat adalah ancaman bagi negara. Ketidakpedulian mereka bisa membahayakan nyawa orang banyak, termasuk rajanya sendiri.

Baca juga: Kisah Abu Nawas dan Teka-teki Dua Kembar

5. Kebaikan Kadang Harus Datang dengan Tipu Daya

Abu Nawas memanipulasi situasi agar Baginda percaya dan ikut dengannya ke desa tersebut. Walau tampak seperti menjerumuskan, tapi niatnya adalah agar Baginda mengalami sendiri dan bisa memberantas keburukan itu secara tuntas.

Pelajaran: Terkadang cara-cara yang tidak biasa diperlukan untuk mengungkap keburukan yang tersembunyi.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 13 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:52
Ashar
15:13
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)