Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home masjid detail berita

Kisah Kocak Abu Nawas: Ketika Baginda Raja Meminta Dibangunkan Istana di Awang-Awang

miftah yusufpati Kamis, 14 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Kisah Kocak Abu Nawas: Ketika Baginda Raja Meminta Dibangunkan Istana di Awang-Awang
Abu Nawas tidak frontal dalam menolak raja. Ia menggunakan humor, ironi, dan simbol untuk mengkritik. Ilustrasi: Ist
LANGT7.ID-Suatu hari, istana Baghdad tampak agak sepi. Abu Nawas sudah beberapa pekan tidak terlihat batang hidungnya. Kata sang istri, ia sedang "bersarna" atau bersemadi spiritual, konon bersama seorang pendeta dan seorang ahli yoga. Entah di gua mana mereka bertapa, yang jelas keberadaannya misterius.

Padahal, di istana, Baginda Harun Al Rasyid sedang kalut. Beberapa raja sahabat baru saja memamerkan bangunan megah: ada istana dari kaca, menara dari emas, bahkan sumur anggur! Tak mau kalah pamor, Baginda ingin membangun sesuatu yang tidak masuk akal, sebuah istana di awang-awang.

"Abu Nawas harus segera pulang!" titah Baginda. Maka dikirimlah beberapa pengawal ke seluruh penjuru negeri. Tapi dasar nasib—baru saja pasukan pencari berangkat, Abu Nawas sudah pulang diam-diam dan langsung menghadap ke istana.

"Abu Nawas! Akhirnya kau datang!" seru Baginda, bahagia bukan main. Mereka pun tertawa-tawa, saling lempar cerita lucu, seperti dua sahabat lama.

Hingga tibalah saat serius. Dengan wajah berbinar, Baginda berkata, “Aku ingin membangun istana di langit. Istana yang membuat para raja iri bukan main. Apakah itu mungkin, wahai Abu Nawas?"

Baca juga: Kisah Kocak Abu Nawas tentang Kompetisi Mimpi Paling Indah

Abu Nawas, yang sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan absurd, menjawab diplomatis, “Segala sesuatu mungkin saja, Paduka yang mulia…”

"Bagus!" seru Baginda. "Kalau begitu, aku serahkan tugas ini kepadamu. Buatlah istana itu!"

Mendengar titah itu, wajah Abu Nawas pucat seperti kain kafan. Dalam hati ia menyesal, kenapa tadi tidak menjawab, “Itu mustahil, Baginda!” Tapi nasi sudah jadi bubur. Titah raja tak bisa ditarik.

Hari-hari berikutnya, Abu Nawas termenung. Ia tahu, bahkan membangun kandang ayam di atas awan saja tak mungkin, apalagi istana! Namun tiba-tiba, ingatannya melayang ke masa kecil... ketika ia menerbangkan layang-layang.

“Eureka!” serunya. Ia segera memanggil beberapa sahabat dan mulai merancang layang-layang raksasa berbentuk istana. Mereka menggambar jendela, pintu, pilar, dan kubah. Setelah selesai, layang-layang itu diterbangkan dari tempat rahasia.

Saat istana-layang itu mengambang di langit, penduduk negeri heboh. Baginda pun mendengar kabar itu dan segera menemui Abu Nawas.

“Abu Nawas, luar biasa! Benarkah itu istana buatanku?” tanya Baginda sambil melotot kagum.

“Benar, Paduka. Istana Paduka telah selesai,” jawab Abu Nawas bangga.

Baca juga: Kisah Tongkat Ajaib Abu Nawas

“Kalau begitu, bagaimana aku bisa naik ke sana?”

“Dengan tambang, Baginda.”

“Mana tambangnya?”

“Maaf Paduka, hamba lupa memasangnya. Teman saya bahkan masih terjebak di sana karena tidak bisa turun,” ucap Abu Nawas dramatis.

“Kalau begitu, bagaimana kau sendiri bisa turun ke bumi?”

“Hamba memakai sayap, Paduka.”

“SAYAP? Buatkan aku juga!”

“Sayap itu hanya bisa dibuat... dalam mimpi, Paduka,” jawab Abu Nawas datar.

Baginda mulai curiga. “Kau menyindirku gila seperti dirimu?”

“Ya, kurang lebih begitu, Baginda.”

“Maksudmu?!”

“Baginda tahu membangun istana di awan itu mustahil. Tapi tetap memerintahkannya. Hamba pun tahu itu mustahil. Tapi tetap menerima tugas itu. Jadi... ya begitulah.”

Baca juga: Kisah Abu Nawas dan Keledai yang Menjadi Kambing

Baginda terdiam. Lalu berbalik, pergi dengan langkah berat diiringi para pengawal.

“Sebenarnya... siapa di antara kita yang gila?” gumamnya.

Abu Nawas menatap langit, tersenyum, lalu menjawab pelan, “Saya kira... kita berdua, Tuanku.”

Hikmah kisah ini:

1. Mengkritik ambisi berlebihan dengan cara jenaka

Kisah ini mengandung sindiran halus terhadap pemimpin yang memiliki ambisi tidak realistis demi pencitraan atau gengsi, seperti membangun “istana di awang-awang”. Abu Nawas menunjukkan bahwa keinginan yang mustahil harus disikapi dengan logika dan kreativitas, bukan asal menuruti kehendak.

Baca juga: Kisah Abu Nawas dan Teka-teki Dua Kembar

2. Kreativitas bisa menyelamatkan dari situasi sulit

Ketika terjebak dalam perintah yang mustahil, Abu Nawas tidak menyerah. Ia menggunakan akalnya—menciptakan “istana” dari layang-layang—untuk memenuhi permintaan raja dengan cara simbolik. Ini mengajarkan pentingnya berpikir out of the box dalam menghadapi tekanan.

3. Kritik terhadap kekuasaan secara halus dan cerdas

Alih-alih menolak langsung perintah raja, Abu Nawas menggunakan cara satire untuk menyadarkan Baginda bahwa keinginan membangun istana di langit adalah tindakan yang tidak masuk akal. Ia mengajak Baginda merenung tanpa mempermalukan secara langsung.

4. Kebodohan kolektif sering lahir dari kepatuhan tanpa nalar

Baik Abu Nawas maupun Baginda sama-sama terjebak dalam absurditas: satu memberi perintah tak masuk akal, satunya menyanggupi karena takut atau karena terbiasa “menyenangkan” penguasa. Ini menunjukkan perlunya berpikir rasional dan jujur dalam posisi apa pun.

Baca juga: Kisah Hikmah Abu Nawas: Tabib Tanpa Obat

5. Seni menyampaikan kebenaran secara halus

Abu Nawas tidak frontal dalam menolak raja. Ia menggunakan humor, ironi, dan simbol untuk mengkritik. Ini pelajaran penting dalam menyampaikan kebenaran kepada pihak yang berkuasa: gunakan cara yang cerdas dan tepat agar pesan tersampaikan tanpa memicu kemarahan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)