LANGIT7.ID- Di tepi sebuah sungai yang tenang, seorang
darwis tengah berjalan menyusuri arus waktu dan pikiran. Ia bukan sembarang sufi pengembara. Ia datang dari mazhab yang saleh dan terpelajar, terbiasa menjinakkan nafsu dengan kaidah, menyulam moral dengan akal, dan membangun menara spiritual di atas fondasi disiplin.
Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, ia melangkah dalam keheningan, tenggelam dalam renungan: tentang kebenaran mutlak, tentang suara jiwa yang bersatu dengan nama-nama Ilahi. Tapi lamunannya buyar ketika dari seberang sungai terdengar teriakan seorang darwis lain, yang tengah melantunkan dzikir dengan penuh semangat—meski terdengar keliru.
“
U-ya-hu… U-ya-hu…”
Sang darwis berhenti. Ada gerak refleks dalam pikirannya: "Salah," gumamnya. Harusnya “
Ya-Hu”—bukan “
U-ya-hu”. Ia merasa terpanggil. Dalam tradisi mazhabnya, membiarkan kekeliruan adalah lalai, menegur adalah pahala.
Lalu ia sewa perahu, menyeberang ke pulau tempat sang pengucap tinggal. Di sana, dalam gubuk sederhana beratap alang-alang, ditemuinya sosok lelaki tua yang tengah bergerak-gerak, berusaha menyelaraskan napas dengan mantra yang—bagi telinga darwis ini—masih sumbang.
Baca juga: Kisah Sufi Humor Nasrudin Hoja: Sepotong Keju Dengan sopan dan percaya diri, ia berkata, “Sahabat, saya datang untuk menyampaikan bahwa dzikirmu keliru. Bukan ‘
U-ya-hu’, tapi ‘
Ya-Hu’. Pengucapan itu penting. Itu pintu bagi makna yang lebih tinggi.”
Sang darwis tua terdiam sejenak. Kemudian menunduk rendah, lalu berkata pelan, “Terima kasih, saudaraku, atas bimbinganmu. Aku akan mencoba mengingatnya.”
---
Sang darwis muda kembali ke perahunya. Hatinya puas. Ia merasa telah menunaikan tugas ilmunya. Barangkali kelak lelaki itu bisa menyempurnakan dzikirnya dan—siapa tahu—mencapai maqam para sufi besar yang bisa berjalan di atas air.
Namun baru saja dayungnya menyentuh permukaan sungai, terdengar lagi suara dari gubuk alang-alang: “U-ya-hu… U-ya-hu…”
Ia menghela napas. “Manusia memang keras kepala,” pikirnya. Tapi belum sempat ia menyusun amarahnya, terdengar percikan air. Ia menoleh. Sosok darwis tua itu tengah berjalan meniti permukaan sungai, menuju perahunya.
Baca juga: KIsah Sufi: Antara Papan dan Maut, Pintu Menuju Makrifat Bingung dan takjub, darwis muda terdiam. Sang lelaki tua mendekat, lalu berkata dengan lembut:
“Maaf, saudaraku. Aku datang hanya untuk menanyakan lagi bagaimana ucapan yang benar itu. Sulit benar bagiku mengingatnya.”
Dalam Kata dan di Luar KataKisah ini bukan sekadar humor sufistik. Ia mengguncang pemahaman tentang bentuk dan substansi, tentang kaidah dan esensi. Ia bertanya: apakah kebenaran hanya milik lidah yang fasih, atau milik hati yang menyala?
Dalam pemahaman tasawuf, dzikir bukan soal artikulasi fonetik semata. Ia bukan mantera yang hanya bekerja jika diucapkan dengan sempurna. Dzikir adalah getaran batin, resonansi kesadaran dengan kehadiran Tuhan. Maka, mungkin saja lidah keliru tapi ruh benar.
Itulah mengapa darwis yang dianggap ‘salah’ justru bisa berjalan di atas air—sebuah simbol dalam tradisi sufi tentang orang yang mencapai kemurnian spiritual. Ia tidak memperdebatkan lafal. Ia menyelam ke dalam makna.
Baca juga: Kisah Sufi Mullah Nasrudin Hoja: Engkau Benar, Engkau Juga Benar “Bukan suara kalian yang didengar Tuhan,” tulis al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, “tetapi gerak hati kalian.” Dalam konteks itu, darwis pertama mewakili dunia bentuk dan metodologi—yang penting dan berguna, tapi tak selalu menjadi penentu keberhasilan rohani.
Sementara darwis tua di pulau itu adalah representasi dari mereka yang mungkin tak terdidik secara sistematis, tapi memiliki cinta yang murni. Yang salah mengucapkan tapi tepat menyentuh.
Catatan dari TimurIdries Shah, sang penghimpun kisah ini, tak menulis untuk hiburan. Ia menyusun mozaik kebijaksanaan kuno dalam bahasa yang menggoda kesadaran modern. Dalam tradisi kaum Asaaseen—sebuah mazhab hakikat yang menyebar dari Timur Dekat hingga Asia Tengah—kisah ini adalah semacam ‘cermin retak’ yang menunjukkan bahwa yang tampak keliru bisa jadi tepat, dan yang tampak benar belum tentu sampai.
Baca juga: Kisah Sufi: Mullah Nasrudin dan Pintu Istana yang Tertutup Bagi Rakyat Bahwa kebenaran, dalam dunia sufi, tidak bisa diborgol oleh ejaan, tidak bisa dikurung oleh kaidah. Sebab Tuhan tidak bersemayam dalam huruf, melainkan dalam hati yang mencintai-Nya.
Dan mungkin, dalam diamnya gubuk alang-alang, serta suaranya yang keliru namun konsisten, darwis tua itu telah lama menemukan apa yang darwis muda masih kejar: kehadiran yang tulus. Dzikir yang hidup. Dan kemampuan berjalan di atas air—karena hatinya telah ringan oleh kerinduan yang tak terucapkan dengan benar, tapi dirasakan dengan sempurna.
(mif)