LANGIT7.ID-Suatu hari,
Mullah Nasrudin Hoja didapuk menjadi hakim kota menggantikan qadhi lama yang wafat. Warga menaruh harapan tinggi: seorang mullah yang bijak, jenaka, dan dianggap suci, tentu akan membuat pengadilan menjadi lebih adil dan damai.
Persidangan pertama pun dimulai. Seorang jaksa dengan penuh semangat menyampaikan dakwaan terhadap terdakwa: lengkap dengan bukti-bukti dan logika yang kuat. Kata demi kata disusun dengan gaya persuasif yang mengesankan.
Setelah sang jaksa selesai, Nasrudin mengangguk-angguk penuh keyakinan lalu berkata:
"Aku rasa engkau benar."
Petugas majelis merasa heran. Ia membisikkan, “Tapi, Mullah… pembela belum berbicara.”
Tibalah giliran pengacara pembela. Ia menyampaikan pembelaan yang elegan, dengan logika tajam dan retorika cemerlang. Ia meruntuhkan satu demi satu argumen jaksa.
Selesai ia berbicara, Nasrudin kembali mengangguk dan berkata:
"Aku rasa engkau juga benar."
Baca juga: Kisah Humor Sufi: Ketika Nasrudin Hoja Berteriak Api! Api! di Mimbar Jumat Kali ini, petugas tidak tahan lagi. Ia mendekati Nasrudin dan menyela, “Mullah! Tidak mungkin keduanya benar. Salah satu harus salah!”
Nasrudin menatap petugas itu lama, kemudian menjawab dengan tenang:
"Aku rasa engkau pun benar."
HikmahKisah ini menyindir sekaligus mencerminkan kelemahan manusia dalam memahami kebenaran secara utuh. Nasrudin, dengan cara khasnya, sedang menunjukkan bahwa dalam dunia perdebatan, setiap pihak bisa tampak benar, asal penyampaiannya meyakinkan.
Tapi kebenaran tidak selalu ada pada retorika. Seorang hakim, pemimpin, atau pencari hikmah harus punya kemampuan menembus balik argumen, bukan hanya terpukau oleh kemasannya.
Baca juga: Itik Berkaki Satu Mullah Nasrudin: Humor Menyelamatkan dari Murka Penguasa Humor dalam kisah ini mengajarkan kita bahwa kebenaran tidak bisa ditentukan dari siapa yang paling fasih bicara, tapi harus disaring dari akal, hati nurani, dan kebijaksanaan yang tajam.
Kisah ini berasal dari tradisi cerita rakyat dan hikmah Sufi yang dikaitkan dengan *Mullah Nasrudin* (Nasruddin Hodja), tokoh legendaris dari dunia Islam klasik, dan bisa ditemukan dalam berbagai versi, termasuk "Kisah-Kisah Sufi" oleh Idries Shah. Cerita ini adalah cerminan dari metode sufistik: menyampaikan kebijaksanaan lewat paradoks dan tawa.
(mif)