LANGIT7.ID-Ketika kekuasaan terlalu absolut, maka kebenaran harus menyamar dalam kelakar. Demikianlah pelajaran dari
Mullah Nasrudin, sufi jenaka yang tak pernah kehabisan akal dalam menghadapi tirani, bahkan dari seorang penakluk seperti Timur Lenk.
Suatu hari, Nasrudin menerima undangan kehormatan dari
Timur Lenk. Seperti biasa, ia hendak datang membawa buah tangan. Ia memilih seekor itik panggang sebagai persembahan.
Namun, godaan pagi itu terlalu kuat. Perut lapar dan aroma sedap membuat Nasrudin memakan satu kaki itik itu terlebih dahulu. Kini ia hanya memiliki itik panggang berkaki satu untuk dipersembahkan. Dalam kebingungan, Nasrudin akhirnya tetap membawanya ke istana.
Benar saja, Timur Lenk langsung mencurigai: "Mengapa itik panggang ini hanya berkaki satu, Mullah?"
Dengan tenang, Nasrudin menjawab: "Memang di negeri ini itik-itik hanya memiliki satu kaki. Kalau Paduka tak percaya, mari kita lihat di kolam."
Baca juga: Keledai Pembaca dan Ujian dari Seorang Raja kepada Mullah Nasrudin Mereka pun berjalan menuju kolam istana. Di sana, banyak itik sedang berendam dengan satu kaki diangkat, seperti kebiasaan unggas saat istirahat. Nasrudin pun menunjuk: "Lihatlah, di sini itik memang berkaki satu."
Timur Lenk tentu tak semudah itu dibohongi. Ia berteriak kencang. Seketika, para itik kaget, menurunkan kakinya dan terbang beterbangan.
Namun Nasrudin tetap tenang, bahkan mengangkat kedua tangannya: "Subhanallah…! Bahkan itik pun takut pada Paduka. Kalau Anda meneriaki saya demikian, bisa-bisa saya juga mengeluarkan dua kaki tambahan dan ikut terbang ke langit!"
Hikmah dari KisahKisah ini bukan sekadar lelucon tentang liciknya Mullah Nasrudin, melainkan sindiran terhadap kekuasaan yang terlalu suka memerintah dan menyalahkan tanpa memahami keadaan. Humor menjadi cara Nasrudin untuk bertahan hidup dan menundukkan kesewenang-wenangan, bukan dengan perlawanan frontal, tapi dengan akal dan kelucuan yang mencairkan ketegangan.
Baca juga: Kisah Hikmah Mullah Nasrudin dan Kengerian Timur Lenk: Pedang Keadilan dari Langit Dalam tradisi sufi, hikmah kadang-kadang lebih kuat disampaikan dalam tawa daripada dalam khutbah. Dan Nasrudin mengajarkan bahwa: “Orang bijak tidak selalu menjawab dengan benar, tapi selalu menjawab dengan selamat.”
Seperti itik yang tampak hanya berkaki satu saat tenang, dan menjadi dua ketika diusik, demikian pula manusia: penilaian kita sering bergantung pada cara kita memperlakukannya. Bila dengan kasih, ia tenang; bila dengan kekerasan, ia lari.
(mif)