LANGIT7.ID-Pada masa kekuasaan
Timur Lenk, dunia Islam dicekam ketakutan. Raja berkaki pincang itu, dengan wajah membara dan ambisi sebesar kerajaannya, tidak hanya menaklukkan negeri demi negeri, tapi juga menundukkan nurani. Seolah-olah pedang di tangannya tak hanya merobek daging, tapi juga melumpuhkan akal sehat. Ia tidak hanya memerangi pemberontak, tapi juga mencurigai orang bijak.
Salah satu ritual kekuasaannya yang paling menakutkan adalah pertanyaan yang ditujukan kepada para ulama setiap kali ia menaklukkan satu wilayah: “Apakah aku adil atau lalim?”
Sebuah pertanyaan maut. Karena, jika sang ulama menjawab “adil”, maka ia akan digantung dengan alasan keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Tapi jika menjawab “lalim”, ia akan dipenggal karena dianggap menghina kekuasaan. Beberapa ulama besar sudah menjadi korban permainan retoris yang keji ini.
Namun, pada suatu waktu, tibalah giliran seorang ulama eksentrik, filsuf rakyat yang sering dianggap gila sekaligus bijak:
Mullah Nasrudin Hoja. Ia dikenal suka melontarkan jawaban nyentrik yang justru menyelamatkan orang dari belenggu nalar yang buntu.
Baca juga: Belajar dari Nasruddin Hoja, Tetap Bijaksana Meski Sedang MelucuDengan wajah tanpa rasa takut, Nasrudin berdiri di hadapan Timur Lenk.
Raja itu mengulang ancamannya, kali ini dengan nada yang bahkan lebih dingin daripada baja pedangnya:
“Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”
Beberapa orang menutup mata. Para prajurit menanti aba-aba eksekusi. Tapi Nasrudin, dengan ketenangan luar biasa, menjawab: “Sesungguhnya, kamilah para penduduk di sini yang lalim dan abai. Adapun engkau adalah pedang keadilan Allah yang diturunkan atas kami.”
Hening menyelimuti ruangan. Timur Lenk menatap Nasrudin lama, lalu tertawa pendek. Ia tahu, ia telah dikalahkan oleh kalimat, bukan oleh senjata. Sejak saat itu, Timur Lenk tidak lagi melanjutkan uji kematian terhadap para ulama. Setidaknya, untuk sementara.
Baca juga: Kisah Sufi: Mullah Nasrudin dan Pintu Istana yang Tertutup Bagi RakyatHikmah dari KisahKisah ini bukan hanya menunjukkan kecerdasan Nasrudin dalam menanggapi tirani, tapi juga memperlihatkan bagaimana para sufi dan ulama kadang harus memilih bahasa hikmah untuk menghadapi kekuasaan zalim. Ketimbang melawan secara frontal yang hanya berakhir di tiang gantungan, Nasrudin menggunakan ilmu maqam (konteks jiwa) dan ironi profetik. Ia tidak menjawab pertanyaan itu secara hitam-putih, melainkan mencerminkan bahwa penguasa zalim adalah cermin dari kebobrokan rakyatnya sendiri.
Nasrudin tidak sedang memuji kezaliman Timur Lenk. Ia sedang menunjukkan bahwa penguasa bisa jadi adalah hukuman sosial yang turun dari langit kepada masyarakat yang lalim terhadap diri mereka sendiri. Karena membiarkan kezaliman tanpa perlawanan, karena lebih senang tunduk ketimbang merawat kebenaran.
“Terkadang hikmah bukan soal siapa yang benar atau salah. Tapi bagaimana selamat membawa kebenaran ke tengah dunia yang suka membungkamnya.”
Baca juga: Kisah Hikmah dari Hadis: Saat Ujian Berbalik Menjadi Azab(mif)