LANGIT7.ID-Pada zaman
Bani Israil, Allah menghendaki untuk menguji tiga orang yang mengalami kondisi sulit: seorang pengidap kusta, seorang laki-laki botak, dan seorang tuna netra. Allah mengutus seorang malaikat kepada mereka dalam wujud manusia. Maka dimulailah ujian itu…
Malaikat mendatangi si kusta terlebih dahulu dan bertanya: “Apa yang paling kamu dambakan?“
Ia menjawab: “Kulit yang indah dan sehat, agar hilang penyakitku yang membuat manusia menjauhiku.”
Maka malaikat mengusapnya, lalu hilanglah penyakitnya. Ia pun diberi kulit yang indah. “Harta apa yang paling kamu cintai?“
“Unta,” jawabnya.
Ia pun diberi seekor unta betina bunting dan didoakan, “Semoga Allah memberkahimu.“
Begitu pula terjadi pada si botak. Ia meminta rambut indah, dan setelah dikabulkan, ia minta sapi. Ia diberi seekor sapi bunting. Kemudian si buta juga diperlakukan serupa. Ia minta agar bisa melihat, dan Allah mengembalikan penglihatannya. Ia minta kambing, dan diberikan kambing betina bunting.
Baca juga: Kisah Hikmah yang Mengharukan Jelang Wafatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz Tak lama, ternak mereka berkembang hingga memenuhi satu lembah. Masing-masing menjadi orang kaya raya.
Lalu malaikat datang kembali dalam wujud seorang musafir miskin. Kepada si kusta ia berkata: “Aku kehabisan bekal dalam perjalanan. Tak ada yang bisa menolongku hari ini kecuali Allah dan engkau. Berilah aku seekor unta.”
Namun ia dijawab: “Kebutuhanku masih banyak!“
Malaikat menegurnya: “Bukankah dahulu kamu menderita kusta, lalu Allah menyembuhkanmu dan memberimu kekayaan?“
Ia menjawab, “Saya mewarisi harta ini dari nenek moyangku.“
Maka malaikat berkata: “Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti semula.“
Demikian pula terjadi pada si botak. Ia pun mengingkari masa lalunya dan menolak memberi. Maka malaikat mendoakannya sama seperti yang pertama.
Namun saat datang kepada si buta, ia berkata: “Aku hanyalah musafir miskin. Mohon berilah aku seekor kambing agar aku dapat melanjutkan perjalanan.”
Laki-laki buta itu berkata dengan rendah hati: “Dahulu aku buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Ambillah seberapa engkau mau, dan tinggalkan sisanya jika engkau kehendaki. Demi Allah, aku tidak merasa keberatan terhadap sesuatu yang engkau ambil karena Allah.”
Malaikat pun berkata: “Pegang hartamu. Kalian bertiga diuji. Allah telah ridha kepadamu dan murka kepada dua sahabatmu.”
(Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari no. 3464 dan Imam Muslim no. 2964).
Baca juga: Ali Banat: Kisah Inspiratif dari Hidup Mewah hingga Warisan Abadi Pelajaran Hikmah1. Nikmat adalah ujian, bukan sekadar karunia.
Ujian tidak selalu dalam bentuk musibah. Kadang yang lebih berat justru ujian dalam bentuk kesenangan.
2. Hati lebih penting dari penampilan.
Dua dari mereka memang berubah wajah, tapi tidak berubah hati. Kekayaan hanya membesarkan ego mereka.
3. Orang yang bersyukur tak pernah lupa dari mana ia datang.
Si buta sadar ia pernah dalam kegelapan, dan semua yang ia punya adalah pemberian, bukan hasil usahanya sendiri semata.
4. Kedermawanan adalah bukti kesadaran terhadap nikmat Allah.
“Ambillah sesukamu, demi Allah aku tidak merasa berat…” adalah kalimat yang hanya bisa keluar dari hati yang paham makna syukur.
5. Kekayaan tidak akan bermakna jika tidak diiringi iman dan amanah.
Mereka yang menolak memberi bukan karena kekurangan, tapi karena lupa.
Sumber:
Hadits ini tercantum dalam Shahih al-Bukhari (no. 3464) dan Shahih Muslim (no. 2964). Diterangkan secara lengkap dalam buku “Kisah Orang yang Sakit Kusta, Orang Botak dan Orang Buta” yang diterbitkan oleh IslamHouse.com (terjemahan dari naskah asli karya Abu Ishaq Al-Huwaini, diterjemahkan oleh Abu Umamah Arif Hidayatullah).
Baca juga: Mukjizat yang Tak Terlihat: Kisah Qur’an, Iman, dan Hati yang Terbuka(mif)