LANGIT7.ID-Jakarta; Kisah Ali Banat, anak muda yang milliarder perjalanan hidupnya sudah berakhir sejak dipanggil Tuhan YME pada 2018.
Tetapi sosok Ali Banat dan kisah hidupnya tetap menarik untuk dijadikan inspirasi anak anak muda: bagaimana anak muda punya karakter yang kuat dalam hidupnya.
Ali Banat, di balik senyumnya yang hangat dan keteguhannya berbagi, tersimpan kisah pilu sekaligus inspiratif tentang seorang pria yang memilih mengubah takdirnya menjadi berkah bagi ribuan orang. Ali Banat, pengusaha sukses asal Australia, sempat menjalani hidup bergelimang harta sebelum divonis kanker stadium empat yang mengubah segalanya.
Dulu, kehidupan Ali dipenuhi kemewahan. Ia dikenal sebagai kolektor jam tangan mewah dan mobil sport, menikmati gemerlap duniawi tanpa beban. Namun, di balik semua itu, ada kegelisahan yang tak terungkap. Hingga suatu hari, dokter memberinya kabar buruk: ia hanya punya waktu enam bulan untuk hidup.
Vonis itu seperti tamparan keras. Ali memilih untuk tidak tenggelam dalam keputusasaan, melainkan bangkit dengan cara yang tak terduga. Ia menjual seluruh hartanya, meninggalkan kehidupan lamanya, dan memutuskan untuk pergi ke tempat-tempat paling membutuhkan.
“Dunia ini seperti bayangan,” katanya dalam salah satu videonya yang viral. “Jika kau mengejarnya, ia akan lari. Tapi jika kau berbalik, ia akan mengikutimu.”
Dengan prinsip itu, Ali mendirikan MATW Project (Muslim Around The World), sebuah organisasi yang fokus membantu masyarakat miskin dan korban konflik di Palestina, Togo, Ghana, dan Benin. Ia membangun sekolah untuk anak-anak yang tak bisa membaca, menggali sumur untuk desa yang kekurangan air bersih, dan memberikan modal usaha bagi keluarga yang hidup dalam kemiskinan.
Tak hanya itu, Ali juga kerap membiayai operasi medis bagi mereka yang tak mampu, menyantuni anak yatim, dan membangun masjid sebagai pusat peradaban masyarakat. Setiap uang yang ia miliki disalurkan dengan hati-hati, memastikan bahwa bantuannya benar-benar mengubah hidup penerimanya.
Meski dokter hanya memberinya enam bulan, Ali bertahan selama tiga tahun. Ia meninggal pada 2018, tetapi warisannya tak pernah berhenti. MATW Project terus berjalan, menyebarkan kebaikan seperti yang ia impikan.
Sebelum wafat, Ali sempat menulis buku berjudul
"The Greatest Journey", mengisahkan perjalanan spiritualnya dari kehidupan materialistis menuju pencarian makna sejati. Video terakhirnya,
"My Last Message Before I Die", menjadi inspirasi bagi jutaan orang di dunia.
Kisah Ali Banat mengajarkan bahwa kematian bukanlah akhir. Justru, ia membuktikan bahwa warisan terindah bukanlah harta, melainkan kebaikan yang terus mengalir, sekalipun pemiliknya telah tiada. Hari ini, di sudut-sudut dunia yang pernah ia sentuh, nama Ali Banat tetap hidup—terukir dalam doa-doa mereka yang merasakan kasihnya.(*/saf)
(lam)