LANGIT7.ID, Jakarta - Jika berbicara tentang humor dan hikmah, maka tak bisa dipisahkan dari sosok
Nasruddin Hoja, seorang sufi yang terkenal dengan kata-kata dan perilaku lucunya yang penuh hikmah. Meski terkenal dengan sifatnya yang usil dan lucu, dia tetap menjadi sosok yang bijaksana.
“Nasruddin ini sosok sufi yang lucu kata-katanya dan perilakunya penuh hikmah, tapi orangnya lucu menyenangkan. Sebenarnya begitu sosoknya,” tutur Pakar Filsafat Islam, Dr. Fahruddin Faiz, dalam salah satu kajiannya, dikutip Selasa (14/3/2023).
Nasruddin bukan hanya hanya sosok lucu yang membuat orang tertawa, namun juga memiliki banyak hikmah yang terkandung dalam setiap kata-katanya. Seperti sebuah cerita saat berguru pada Sayid Muhammad Khairani. Nasruddin agak usil saat menjadi santri dan membuat teman-temannya tertawa.
Baca Juga: Hajar Sa'deddin, Perempuan Pertama yang Menjabat Kepala Radio Quran Mesir“Akhirnya oleh gurunya, ‘Nasrudin, kamu besok jadi sufi, jadi orang bijaksana, tapi sebijaksana apapun kata-katamu, orang akan tertawa’. "Kalimat gurunya ampuh ternyata akhirnya juga begitu, jadi orang yang sebenarnya sangat bijaksana tapi setiap perilakunya setiap hanya membuat orang ketawa," ujar Dr Fahruddin Faiz.
Meski begitu, untuk bisa memahami hikmah yang terkandung dalam kata-kata Nasruddin, diperlukan pemahaman yang mendalam. Dalam buku-buku yang menceritakan tentang humor tasawuf, kalimat-kalimat Nasrudin selalu mengundang tawa.
“Ceritanya, Nasrudin itu kamu bisa ketawa, tetapi coba satu-satu cerita itu, kamu renungkan nanti ada makna yang dalam,” ujar Fahruddin.
Baca Juga: Hari Perempuan Internasional: Rahasia Kesuksesan Wanita Turkiye di BelgiaNasrudin juga dikenal sebagai sosok yang pemberani. Dia tidak takut untuk mengeritik keluarga sampai tetangga yang berbuat salah, bahkan masyarakat dan tradisi yang ada. Dia juga seorang
Mullah (ulama) dan berpuara-pura bodoh (awam).
“Nasruddin itu berkata dan berprilaku aneh, lucu tapi penuh hikmah. Dia berani mengeritik penguasa dengan caranya. Berani mengeritik tradisi dan msayarakat dengan caranya,” ujar Fahruddin Faiz.
Nasrudin juga dikenal sebagai sosok yang pemberani, yang tidak takut untuk mengkritik tetangganya sendiri, bahkan masyarakatnya dan tradisi yang ada. Sebuah contoh cerita yang diceritakan oleh Dr Fahruddin Faiz adalah ketika Nasrudin bertemu dengan Timur Lenk yang sangat ditakuti.
Baca Juga: Shermon Burgess, Aktivis Anti-Islam Australia Kini Jadi MualafSetelah wilayah Anatolia dikuasai Timur Lenk, dia mulai mengenal Nasruddin Hoja karena merupakan sufi yang terkenal. Timur Lenk pun kerap memanggil Nasruddin ke istana untuk berbicang soal kekuasaan.
“Nasruddin,” tanya Timur Lenk pada suatu hari, “Setiap khalifah di sini selalu memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil Alallah, Al-Mu’tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku?”
Mendengar pertanyaan Timur Lenk yang tidak terduga itu, Nasrudin pun sesaat terdiam dan berpikir keras karena pertanyaan tersebut sangat sulit dijawab.
Baca Juga: Pegulat Muay Thai Rodtang Jitmuangnon Masuk Islam dan MenikahDia tahu persis Timur Lenk adalah penguasa dan pemimpin bala tentara yang bengis dan bisa bertindak buruk kepadanya bila tak puas atas jawabannya.
“Saya kira, gelar yang paling pantas untuk Anda adalah Naudzu-Billah (Aku berlindung kepada Allah) saja,” jawabnya tenang. Timur Lenk mengangguk-angguk setuju. Nasruddin pun senang.
Ini hanyalah salah satu kisah Nasraudin Hoja yang punya hikmah. Sepintas terdengar lucu, tetapi ada hikmah yang mendalam jika direnungi.
(jqf)