LANGIT7.ID-Hari itu
Nasrudin Hoja sedang berada di kota raja. Di depan gerbang istana, suasana tampak sibuk luar biasa. Para penjaga berjaga dengan sikap siaga. Kuda-kuda mewah dan kereta para bangsawan memenuhi halaman. Bendera-bendera negara asing berkibar.
Nasrudin, yang terkenal sebagai sufi nyentrik, penasaran. Ia mendekat, tapi segera dihardik oleh seorang pengawal: "Menjauhlah engkau, hai mullah!"
Dengan nada tenang Nasrudin bertanya: "Mengapa aku harus menjauh?"
Pengawal menjelaskan: "Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Pembicaraan penting tengah berlangsung. Menyangkut nasib rakyat. Jangan sampai terganggu!"
Nasrudin terdiam sejenak, lalu menanggapi: "Tapi bukankah aku ini rakyat? Mengapa justru rakyat harus dijauhkan dari pembicaraan tentang nasibnya sendiri?"
Baca juga: Kisah Sufi Ajaran Nizamudin Aulia: Tuan Rumah dan Tamu Pengawal mulai kesal: "Kami hanya menjalankan perintah. Kami menjaga agar tak ada perusuh masuk."
Nasrudin mengangguk pelan, lalu berbalik sambil berkata: "Aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana jika perusuhnya… justru sudah ada di dalam sana?"
Hikmah dari KisahKisah ini menyingkap sebuah kebenaran pahit yang sering terbungkus megah dalam istilah-istilah kekuasaan: “Demi rakyat”, tapi tanpa rakyat.
Nasrudin mempertanyakan ironi kekuasaan: bagaimana mungkin nasib rakyat dibahas tanpa kehadiran rakyat itu sendiri?
Dan bagaimana mungkin para pengawal sibuk menjaga pintu dari perusuh, padahal yang menghancurkan negeri seringkali justru berasal dari balik dinding istana?
Dalam tradisi sufi, kebenaran tidak berteriak dari mimbar kekuasaan, melainkan dibisikkan oleh suara hati yang jernih.
Nasrudin bukan pemberontak. Ia tidak menerobos masuk, tidak mengacau. Namun dengan satu kalimat tajam, ia membuka kebutaan kekuasaan yang terlalu sibuk menjaga citra, sampai lupa siapa yang mereka wakili.
Baca juga: Kisah Sufi Jalaludin Rumi: Saudagar dan Darwis Kristen “Ketika kebenaran dikunci dari luar, ia akan masuk lewat senyum seorang sufi.”
Kebijaksanaan Nasrudin, sederhana namun menusuk hingga jantung kekuasaan.
(mif)