LANGIT7.ID-Di balik kekejaman dan kejayaan seorang penakluk, terkadang tersembunyi keinginan untuk menaklukkan hal-hal yang tak bisa ditundukkan oleh pedang: akal sehat dan tawa.
Timur Lenk, sang penakluk besar dari Asia Tengah yang pernah mengguncang India, Persia, dan Anatolia, pada suatu hari memutuskan untuk menguji seorang ulama rakyat yang terkenal nyentrik:
Mullah Nasrudin.
Dikenal sebagai guru bijak yang jenaka, Nasrudin tidak tinggal dalam madrasah atau istana, melainkan di pasar dan gang-gang desa, mengajar lewat tawa, mengejek lewat hikmah.
Ketika Nasrudin suatu hari berjumpa kembali dengan Timur Lenk, sang raja menghadiahkannya seekor keledai, sambil berkata dengan senyum penuh jebakan:
"Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."
Baca juga: Kisah Hikmah Mullah Nasrudin dan Kengerian Timur Lenk: Pedang Keadilan dari Langit Orang-orang di sekeliling istana tertawa. Para menteri membisikkan bahwa ini pasti akhir karier Nasrudin. Mana mungkin keledai bisa membaca?
Namun, dua minggu kemudian, Nasrudin datang ke istana sambil menggiring keledainya. Ia membuka sebuah kitab besar di hadapan hewan itu. Ajaibnya, keledai itu mulai membalik halaman demi halaman dengan lidahnya. Setelah mencapai halaman terakhir, ia menatap Nasrudin seolah menunggu penilaian.
Timur Lenk terperangah. Lalu ia bertanya, "Bagaimana bisa engkau mengajari keledai itu membaca?"
Nasrudin menjawab tenang, "Sesampainya di rumah, aku buat buku palsu dari kertas-kertas besar, dan kusisipkan biji gandum di antara tiap lembarnya. Keledai itu akhirnya belajar bahwa untuk mendapat biji gandum, ia harus membalik halaman satu demi satu. Maka ia pun terlatih membaca… dengan cara keledai."
Timur Lenk tertawa geli, lalu menyambung: "Tapi ia tetap tidak mengerti apa yang dibacanya!"
Nasrudin menatap raja itu, lalu berkata: "Memang begitu cara keledai membaca: hanya membuka-buka buku tanpa mengerti isinya.
Kalau manusia juga hanya membuka buku tanpa paham maknanya, apakah bedanya dengan keledai?"
Ruangan hening. Para cendekia yang selama ini bangga dengan koleksi bukunya tertunduk. Dalam satu kalimat, Nasrudin menelanjangi kemunafikan para pembaca palsu: mereka yang rajin membuka kitab, tapi lupa mencernanya dengan hati.
Hikmah dari KisahKisah ini menyindir tajam budaya ilmu yang dangkal: membaca sebagai ritual, bukan sebagai pencarian makna. Banyak orang membuka lembaran demi lembaran kitab suci, kitab ilmu, kitab sejarah tapi tak mengizinkan satu kalimat pun benar-benar masuk ke dalam kalbunya. Mereka yang seperti ini, menurut Nasrudin, tidak lebih dari sekadar keledai yang bisa membuka halaman tanpa tahu apa artinya.
Baca juga: Kisah Sufi: Mullah Nasrudin dan Pintu Istana yang Tertutup Bagi Rakyat Ilmu bukan di mata, tapi di dada. Dan buku bukan sekadar benda yang dibuka, tapi jendela untuk menatap kedalaman makna.
Nasrudin, dengan kelakar, justru membalik perintah seorang raja menjadi cermin untuk semua pembaca: apakah kita benar-benar belajar, atau hanya sekadar menjalani kebiasaan yang tampak terpelajar?
(mif)