LANGIT7.ID-Di sebuah pagi yang cerah, seorang raja darwis—seorang yang telah menanggalkan dunia dan menguasai batinnya—ikut serta dalam pelayaran menyeberangi lautan. Ketika para penumpang satu demi satu menaiki perahu, mereka mengenali sosok suci itu dan seperti adat para pencari, mereka menghampiri dan meminta wejangan.
Sang darwis tak banyak bicara. Ia hanya mengulang satu kalimat sederhana, kalimat yang menjadi pegangan para penempuh jalan spiritual sejak berabad-abad:
“Sadarlah akan maut, sampai engkau tahu hakikat maut itu sendiri.”
Beberapa mendengarkan, sebagian lainnya berlalu sambil mengangguk tanpa mengerti. Kalimat itu terkesan sederhana, namun tak semua mampu menangkap kedalamannya.
Tak lama kemudian, angin topan datang menyergap. Langit menghitam, ombak mengganas, dan perahu itu seperti daun di tengah pusaran air. Anak buah kapal berteriak, para penumpang menjerit. Mereka sujud, menangis, menghiba kepada Tuhan dengan segala cara dan doa yang mereka tahu.
Di tengah hiruk pikuk dan kecemasan itu, sang darwis duduk diam. Wajahnya tak berubah. Tidak ketakutan, tidak pula gembira. Ia diam merenung, seolah badai tidak sedang terjadi.
Baca juga: Kisah Sufi Mullah Nasrudin Hoja: Engkau Benar, Engkau Juga Benar Ketika badai reda dan lautan tenang kembali, penumpang-penumpang pun bangkit, bersyukur karena selamat. Namun, keheranan mengisi wajah mereka ketika memandang sang darwis.
Seseorang memberanikan diri bertanya, “Tuan, apakah Anda tidak sadar bahwa hanya selembar papan yang memisahkan kita dari maut tadi?”
Sang darwis memandangnya dengan lembut dan menjawab:
“Aku sangat sadar. Di lautan, selamanya seperti itu. Tapi tahukah engkau? Saat kita berdiri di daratan yang tampaknya kokoh, ketika kita makan, tertawa, atau berjalan di pasar, sesungguhnya pemisah kita dengan maut jauh lebih rapuh dari selembar papan.”
HikmahKisah ini mengajarkan kesadaran yang terus-menerus akan kematian—dzikrul maut—sebagai pintu menuju makrifat. Bukan untuk menakut-nakuti diri, melainkan sebagai alat untuk hidup lebih sadar, lebih jernih, dan tidak terperdaya oleh ilusi dunia.
Darwis tidak hanya memahami kematian secara teori, tetapi telah menjadikannya bagian dari kesadarannya setiap saat. Maka badai sebesar apa pun tak mengguncangnya, karena ia telah lama hidup dalam kesadaran bahwa maut selalu dekat, lebih dekat dari nadi.
Baca juga: Kisah Sufi Ajaran Nizamudin Aulia: Tuan Rumah dan Tamu(mif)