Warisan Panjang dari Khawarij dan Mu’tazilah
Miftah yusufpati
Rabu, 30 Juli 2025 - 05:15 WIB
Ketika Khawarij mengkafirkan semua pihak, mereka sedang menolak abu-abu moral politik. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dari tepi medan perang Siffin ke pusat istana Abbasiyah, dua mazhab pemikiran ekstrem meninggalkan warisan yang tetap mengguncang hingga hari ini: Khawarij dan Muktazilah.
Sore yang tenang di Kufah berubah tegang. Di tengah perdebatan panjang soal legitimasi politik dan moral kekuasaan, segelintir orang meninggalkan barisan pasukan Ali bin Abi Thalib. Mereka kecewa karena sang Khalifah menerima arbitrase dalam perang Siffin melawan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Bagi kelompok ini, kebenaran tidak boleh ditukar kompromi. Maka mereka berbalik arah dan menyebut semua lawan, termasuk Ali sendiri, sebagai kafir. Sejarah kemudian mencatat mereka sebagai kaum Khawarij, pemberontak yang menghunus pedang atas nama kesucian prinsip.
Sekilas, kaum Khawarij tampak seperti riak kecil dalam sejarah. Jumlah mereka tidak seberapa, dan usia gerakan mereka pun pendek. Namun dampaknya bergaung panjang. Dari doktrin ekstrem yang menolak ambiguitas moral hingga penolakan terhadap kompromi politik, Khawarij mewariskan semangat hitam-putih dalam beragama yang tak sepenuhnya punah bahkan hingga abad ini.
Baca juga: Perkembangan Ilmu Fikih: Masa Daulah Umayyah dan Abbasiyah
Tak bersenjata dan tak radikal, namun tak kalah revolusioner adalah kaum Mu’tazilah. Berbeda dengan Khawarij yang gerakannya militan, kaum Mu’tazilah muncul sebagai warisan intelektual dari badai teologi politik yang sama.
Mereka lahir dari rahim perdebatan panjang soal keadilan Tuhan dan kebebasan manusia. Dalam sejarah pemikiran Islam, merekalah yang memformulasikan Ilmu Kalam secara sistematis, dengan logika Yunani, dan gairah rasionalisme.
Sore yang tenang di Kufah berubah tegang. Di tengah perdebatan panjang soal legitimasi politik dan moral kekuasaan, segelintir orang meninggalkan barisan pasukan Ali bin Abi Thalib. Mereka kecewa karena sang Khalifah menerima arbitrase dalam perang Siffin melawan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Bagi kelompok ini, kebenaran tidak boleh ditukar kompromi. Maka mereka berbalik arah dan menyebut semua lawan, termasuk Ali sendiri, sebagai kafir. Sejarah kemudian mencatat mereka sebagai kaum Khawarij, pemberontak yang menghunus pedang atas nama kesucian prinsip.
Sekilas, kaum Khawarij tampak seperti riak kecil dalam sejarah. Jumlah mereka tidak seberapa, dan usia gerakan mereka pun pendek. Namun dampaknya bergaung panjang. Dari doktrin ekstrem yang menolak ambiguitas moral hingga penolakan terhadap kompromi politik, Khawarij mewariskan semangat hitam-putih dalam beragama yang tak sepenuhnya punah bahkan hingga abad ini.
Baca juga: Perkembangan Ilmu Fikih: Masa Daulah Umayyah dan Abbasiyah
Tak bersenjata dan tak radikal, namun tak kalah revolusioner adalah kaum Mu’tazilah. Berbeda dengan Khawarij yang gerakannya militan, kaum Mu’tazilah muncul sebagai warisan intelektual dari badai teologi politik yang sama.
Mereka lahir dari rahim perdebatan panjang soal keadilan Tuhan dan kebebasan manusia. Dalam sejarah pemikiran Islam, merekalah yang memformulasikan Ilmu Kalam secara sistematis, dengan logika Yunani, dan gairah rasionalisme.