home masjid

Sengkarut Ijtihad Dua Sahabat Nabi: Ketika Ibnu Umar Menyanggah Ibnu Abbas

Rabu, 30 Juli 2025 - 16:00 WIB
Ibnu Abbas lebih lentur. Ia membuka pintu tafsir atas peristiwa dan menyaringnya dalam logika hukum. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sore belum benar-benar turun di pelataran Masjidil Haram ketika seorang laki-laki menghampiri Abdullah bin Umar. Ia datang membawa tanya yang tampaknya sederhana, namun menyimpan percabangan besar dalam fikih ibadah.

“Bolehkah aku thawaf di Baitullah sebelum mendatangi Arafah?” tanya laki-laki itu.

Ibnu Umar, putra Khalifah kedua Umar bin Khattab, ulama terkemuka dari generasi sahabat, menjawab mantap, “Boleh.”

Namun si penanya rupanya tidak cukup puas. Ia memunculkan pendapat yang berbeda, berasal dari sepupu Nabi yang juga ulama besar: Ibnu Abbas. “Tetapi Ibnu Abbas pernah mengatakan: ‘Jangan thawaf sebelum wuquf di Arafah!’”

Wajah Ibnu Umar mengeras. Dengan nada tegas, ia menolak logika keberatan itu. “RasulullahSAW pernah menunaikan haji, lalu melakukan thawaf di Baitullah sebelum beliau mendatangi Arafah. Apakah dengan perkataan Rasulullah kamu lebih berhak berpegang, ataukah dengan perkataan Ibnu Abbas jika kamu benar?”

Riwayat lain bahkan mencatat respons Ibnu Umar yang lebih tajam. Ia menutup pernyataannya dengan kalimat: “Sunnatullah dan sunnah Rasul-Nya lebih patut kamu ikuti daripada sunnah si fulan jika kamu memang benar.”

Baca juga: Syariat, Ijtihad, dan Taqlid: Pergulatan Umat Mencari Jalan Tuhan dalam Dunia yang Berubah
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya