home community

Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80(3) Panti Asuhan Harus Bisa Cetak Anak Asuh Yang Mandiri

Ahad, 03 Agustus 2025 - 05:00 WIB
Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80(3) Panti Asuhan Harus Bisa Cetak Anak Asuh Yang Mandiri
LANGIT7.ID- Keberadaan panti asuhan bukan sekadar menyediakan tempat tinggal bagi anak-anak terlantar, tetapi menciptakan generasi yang mandiri, berdaya, dan mampu menentukan masa depan mereka sendiri. Panti asuhan harus menjadi pengganti peran orang tua yang tidak hanya memberi kasih sayang, tetapi juga membekali anak dengan keterampilan hidup.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr H Anwar Abbas dalam merespons pentingnya kemandirian bagi lulusan panti asuhan. “Sudah jelas mereka kan tidak punya orang tua. Karena itu, panti asuhan harus tampil menggantikan peran orang tua. Tapi tidak cukup hanya merawat, mereka harus mendidik anak-anak agar mandiri,” ujar Anwar Abbas dalam keterangannya kepada Langit7.id.

Ia menyoroti sistem pendidikan nasional yang menurutnya terlalu menekankan pada penciptaan lulusan pencari kerja, bukan pembuka lapangan kerja. “Kita ini mengajarkan pentingnya uang, tapi tidak mengajarkan bagaimana cara mencari uang. Bahkan lulusan fakultas ekonomi pun banyak yang tidak bisa mencari uang. Apalagi yang bukan ekonomi,” kata Wakil Ketua MUI ini. Karena itu, panti asuhan harus menjadi tempat pembinaan kemandirian sejak dini. Anak-anak perlu dilatih untuk mandiri, mengerjakan urusan mereka sendiri, bahkan membersihkan dan mengelola lingkungan tempat tinggal mereka.

Baca juga: Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80(2): Pendanaan Panti Asuhan Masih Serabutan, Negara Seharusnya Hadir

“Kalau bisa, yang nyuci bukan lagi si empok-empok, tapi anak-anak itu sendiri. Mereka harus dilatih mengurus dirinya sendiri, bahkan juga mengembangkan bakatnya,” katanya. Ia menambahkan bahwa pekerjaan yang sesuai dengan minat dan passion akan mendorong produktivitas dan kesejahteraan anak di masa depan.

Menurut Anwar Abbas, panti asuhan yang ideal harus mengedepankan keseimbangan antara nilai spiritual dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Ia merujuk pada pandangan BJ Habibie tentang pentingnya imtaq (iman dan taqwa) dan iptek sebagai fondasi membangun bangsa.

“Kalau kita ingin anak-anak itu sejahtera, maka mereka harus memiliki iman dan taqwa, tapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari situ mereka bisa mandiri, bisa membuka usaha, bahkan bisa menguasai ekonomi,” ujarnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya