Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80(7): Tugas Besar Pengelolaan Sampah, Pengendalian Polusi, dan Pelestarian Hutan
Dwi sasongko
Senin, 11 Agustus 2025 - 05:00 WIB
Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80(7): Tugas Besar Pengelolaan Sampah, Pengendalian Polusi, dan Pelestarian Hutan
LANGIT7.ID–Merawat dan menjaga alam bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga amanah agama. Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Djihadul Mubarok, mengajak semua pihak memberi perhatian lebih pada tiga persoalan penting mulai pengelolaan sampah, pengendalian polusi, dan pelestarian hutan agar kelestarian bumi tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Menurutnya, perintah untuk menjaga lingkungan telah ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits, di antaranya dalam surat Ar-Rum. “Kalau kita tidak menjaga alam, maka keseimbangan akan terganggu. Air menjadi kotor, pertanian gagal panen, dan efeknya bisa ke mana-mana,” ujar Djihadul Mubarok kepada Langit7.id.
Kerusakan lingkungan memiliki dampak berlapis terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Air bersih yang tercemar berpotensi memicu konflik perebutan sumber daya, sementara polusi dan kerusakan ekosistem bisa menyebabkan kelaparan akibat gagal panen. Ia juga menyoroti ancaman perubahan iklim yang sudah terasa saat ini. “Banyak desa di Pantai Utara Jawa yang tenggelam akibat naiknya permukaan laut. Kalau langkah serius tidak diambil, Pulau Jawa bisa kehilangan sebagian wilayahnya,” katanya.
Baca juga: Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (6): Maraknya Perkawinan Anak Bisa Dicegah Asal....
Salah satu langkah yang didorong Muhammadiyah adalah inovasi pengelolaan sampah melalui mesin daur ulang sampah digital. Program ini memungkinkan masyarakat mengumpulkan botol plastik yang kemudian dikonversi menjadi nilai ekonomi berupa insentif. Nanti, hasilnya akan ditransfer langsung ke rekening tabungan, bahkan bisa digunakan untuk tabungan pendidikan atau haji.
Selain mengurangi pencemaran, konsep ekonomi sirkuler yang diterapkan juga memberi manfaat ekonomi. Sampah plastik diolah menjadi benang yang selanjutnya diproduksi menjadi tas, sepatu, atau barang kerajinan oleh UMKM. “Dengan begitu, penanganan sampah bukan hanya mengurangi polusi, tapi juga menggerakkan ekonomi lokal,” jelasnya.
Polusi baik udara maupun air harus dikendalikan dari sumbernya. Edukasi masyarakat agar tidak membuang limbah ke sungai dan penerapan hukum yang tegas kepada pelanggar lingkungan menjadi kunci. “Kalau kualitas air rusak, dampaknya luas dan bisa memicu perselisihan di masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, perintah untuk menjaga lingkungan telah ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits, di antaranya dalam surat Ar-Rum. “Kalau kita tidak menjaga alam, maka keseimbangan akan terganggu. Air menjadi kotor, pertanian gagal panen, dan efeknya bisa ke mana-mana,” ujar Djihadul Mubarok kepada Langit7.id.
Kerusakan lingkungan memiliki dampak berlapis terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Air bersih yang tercemar berpotensi memicu konflik perebutan sumber daya, sementara polusi dan kerusakan ekosistem bisa menyebabkan kelaparan akibat gagal panen. Ia juga menyoroti ancaman perubahan iklim yang sudah terasa saat ini. “Banyak desa di Pantai Utara Jawa yang tenggelam akibat naiknya permukaan laut. Kalau langkah serius tidak diambil, Pulau Jawa bisa kehilangan sebagian wilayahnya,” katanya.
Baca juga: Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (6): Maraknya Perkawinan Anak Bisa Dicegah Asal....
Salah satu langkah yang didorong Muhammadiyah adalah inovasi pengelolaan sampah melalui mesin daur ulang sampah digital. Program ini memungkinkan masyarakat mengumpulkan botol plastik yang kemudian dikonversi menjadi nilai ekonomi berupa insentif. Nanti, hasilnya akan ditransfer langsung ke rekening tabungan, bahkan bisa digunakan untuk tabungan pendidikan atau haji.
Selain mengurangi pencemaran, konsep ekonomi sirkuler yang diterapkan juga memberi manfaat ekonomi. Sampah plastik diolah menjadi benang yang selanjutnya diproduksi menjadi tas, sepatu, atau barang kerajinan oleh UMKM. “Dengan begitu, penanganan sampah bukan hanya mengurangi polusi, tapi juga menggerakkan ekonomi lokal,” jelasnya.
Polusi baik udara maupun air harus dikendalikan dari sumbernya. Edukasi masyarakat agar tidak membuang limbah ke sungai dan penerapan hukum yang tegas kepada pelanggar lingkungan menjadi kunci. “Kalau kualitas air rusak, dampaknya luas dan bisa memicu perselisihan di masyarakat,” tegasnya.