Kisah Abu Nawas dan Teka-teki Dua Kembar
Miftah yusufpati
Selasa, 12 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Kawan-kawan Abu Nawas tahu bahwa perjalanan akan lebih baik bila bersama orang cerdas dan menyenangkan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Hari itu matahari bersinar cerah, udara sejuk, dan tidak ada utang yang menagih. Pokoknya, cuaca sempurna untuk healing. Maka, kawan-kawan Abu Nawas pun sepakat: “Kita jalan-jalan ke hutan wisata!”
Namun, satu masalah muncul. Mereka tahu betul, tanpa Abu Nawas, perjalanan hanya akan terasa seperti makan nasi tanpa garam—hambar dan bikin nyesel. Maka mereka beramai-ramai ke rumah Abu Nawas, seperti pasukan utusan kerajaan datang mencari penyelamat.
"Abu Nawas, ikutlah!" kata mereka, "Tanpamu, hutan akan terasa seperti kantor pajak, menegangkan dan penuh teka-teki."
Abu Nawas yang sedang menjemur jubah dengan wajah penuh damai pun mengangguk, “Baiklah. Tapi kalian yang traktir makan siang.”
Berangkatlah mereka naik keledai masing-masing, sambil bersenda gurau dan balapan siapa yang paling cepat jatuh dari pelana. Tapi kegembiraan itu mendadak berhenti ketika mereka sampai di sebuah pertigaan jalan. Yang satu ke kanan, satu lagi ke kiri. Dan tak ada Google Maps!
“Wahai kawan-kawan,” kata Abu Nawas, “Hutan yang kita tuju adalah hutan wisata, bukan hutan yang dihuni binatang yang bahkan belum ada di ensiklopedia.”
Baca juga: Kisah Hikmah Abu Nawas: Tabib Tanpa Obat
Namun, satu masalah muncul. Mereka tahu betul, tanpa Abu Nawas, perjalanan hanya akan terasa seperti makan nasi tanpa garam—hambar dan bikin nyesel. Maka mereka beramai-ramai ke rumah Abu Nawas, seperti pasukan utusan kerajaan datang mencari penyelamat.
"Abu Nawas, ikutlah!" kata mereka, "Tanpamu, hutan akan terasa seperti kantor pajak, menegangkan dan penuh teka-teki."
Abu Nawas yang sedang menjemur jubah dengan wajah penuh damai pun mengangguk, “Baiklah. Tapi kalian yang traktir makan siang.”
Berangkatlah mereka naik keledai masing-masing, sambil bersenda gurau dan balapan siapa yang paling cepat jatuh dari pelana. Tapi kegembiraan itu mendadak berhenti ketika mereka sampai di sebuah pertigaan jalan. Yang satu ke kanan, satu lagi ke kiri. Dan tak ada Google Maps!
“Wahai kawan-kawan,” kata Abu Nawas, “Hutan yang kita tuju adalah hutan wisata, bukan hutan yang dihuni binatang yang bahkan belum ada di ensiklopedia.”
Baca juga: Kisah Hikmah Abu Nawas: Tabib Tanpa Obat