Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (9): Menjaga Lingkungan Termasuk Hubbul biah dan Fiqhul Biah
Dwi sasongko
Rabu, 13 Agustus 2025 - 06:49 WIB
Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (9): Menjaga Lingkungan Termasuk Hubbul biah dan Fiqhul Biah
LANGIT7.ID- Menjaga lingkungan bukan hanya tentang kelestarian alam, tetapi juga tentang masa depan bangsa. Dengan mengelola sumber daya alam secara bijak, Indonesia bisa menciptakan lapangan kerja luas, membangun kedaulatan pangan, dan menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh di tengah ketidakpastian global.
“Kalau kita konsisten dan istiqamah dari ucapan sampai tindakan, cinta lingkungan akan menjadi identitas bangsa. Ini bukan hanya demi ekonomi, tapi demi kelangsungan hidup manusia dan alam raya,” tandas Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, Ph.D. kepada Langit7.id.
Dalam pandangannya, konsep menjaga lingkungan dalam Islam lebih tepat disebut hubbul biah (cinta lingkungan) atau fiqhul biah (pemahaman tentang lingkungan), bukan hablum minal alam seperti sering disalahartikan. “Dalam Al-Qur’an yang dikenal itu hablum minallah dan hablum minannas, hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia. Hubungan dengan alam adalah bentuk cinta yang diwujudkan dalam tindakan merawatnya,” ujar KH Cholil yang juga Rais Syuriyah PB NU ini.
Baca juga: Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (8): Pendidikan dan Penegakan Hukum Kunci Kesadaran Merawat Alam
Dia mengutip sabda Rasulullah SAW yang menyatakan, meskipun besok hari kiamat, jika hari ini masih sempat menanam pohon, maka tetap minta untuk menanamnya. Dalam hadist lain menyebutkan bahwa jika tanaman kita dimakan burung, itu dihitung sebagai sedekah. “Bahkan oksigen yang dihasilkan pohon adalah sedekah luar biasa, meski tak pernah kita catat,” tambahnya.
Menurutnya, lingkungan yang sehat adalah fondasi bagi kualitas sumber daya manusia (SDM). Kerusakan lingkungan akan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, menurunkan produktivitas, dan melemahkan daya pikir. “Negara maju itu bukan karena kekayaan alamnya, tapi karena SDM yang produktif. Kalau lingkungan rusak, masyarakat sakit-sakitan, produktivitas anjlok, dan itu pasti memukul ekonomi,” jelasnya.
Salah satu peluang besar yang ia soroti adalah ekonomi hijau melalui perdagangan karbon. Indonesia dengan hutan tropis luas dan wilayah laut yang besar memiliki posisi strategis. “Kalau dulu hutan ditebang untuk diambil kayunya, sekarang cukup dirawat. Nilai karbonnya bisa dijual kepada negara-negara yang defisit karbon. Ini peluang emas yang belum kita kelola secara maksimal,” kata KH Cholil.
“Kalau kita konsisten dan istiqamah dari ucapan sampai tindakan, cinta lingkungan akan menjadi identitas bangsa. Ini bukan hanya demi ekonomi, tapi demi kelangsungan hidup manusia dan alam raya,” tandas Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, Ph.D. kepada Langit7.id.
Dalam pandangannya, konsep menjaga lingkungan dalam Islam lebih tepat disebut hubbul biah (cinta lingkungan) atau fiqhul biah (pemahaman tentang lingkungan), bukan hablum minal alam seperti sering disalahartikan. “Dalam Al-Qur’an yang dikenal itu hablum minallah dan hablum minannas, hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia. Hubungan dengan alam adalah bentuk cinta yang diwujudkan dalam tindakan merawatnya,” ujar KH Cholil yang juga Rais Syuriyah PB NU ini.
Baca juga: Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (8): Pendidikan dan Penegakan Hukum Kunci Kesadaran Merawat Alam
Dia mengutip sabda Rasulullah SAW yang menyatakan, meskipun besok hari kiamat, jika hari ini masih sempat menanam pohon, maka tetap minta untuk menanamnya. Dalam hadist lain menyebutkan bahwa jika tanaman kita dimakan burung, itu dihitung sebagai sedekah. “Bahkan oksigen yang dihasilkan pohon adalah sedekah luar biasa, meski tak pernah kita catat,” tambahnya.
Menurutnya, lingkungan yang sehat adalah fondasi bagi kualitas sumber daya manusia (SDM). Kerusakan lingkungan akan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, menurunkan produktivitas, dan melemahkan daya pikir. “Negara maju itu bukan karena kekayaan alamnya, tapi karena SDM yang produktif. Kalau lingkungan rusak, masyarakat sakit-sakitan, produktivitas anjlok, dan itu pasti memukul ekonomi,” jelasnya.
Salah satu peluang besar yang ia soroti adalah ekonomi hijau melalui perdagangan karbon. Indonesia dengan hutan tropis luas dan wilayah laut yang besar memiliki posisi strategis. “Kalau dulu hutan ditebang untuk diambil kayunya, sekarang cukup dirawat. Nilai karbonnya bisa dijual kepada negara-negara yang defisit karbon. Ini peluang emas yang belum kita kelola secara maksimal,” kata KH Cholil.