Prabowo Setujui Gedung 40 Lantai di Bundaran HI untuk Himpun Dana Umat Rp500 Triliun
Tim langit 7
Ahad, 17 Agustus 2025 - 21:08 WIB
Prabowo Setujui Gedung 40 Lantai di Bundaran HI untuk Himpun Dana Umat Rp500 Triliun
LANGIT7.ID-Jakarta;Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai pengelolaan dana umat di Indonesia memiliki potensi besar yang bisa mencapai Rp500 triliun per tahun apabila dikelola secara profesional dan akuntabel. Potensi tersebut diungkapkannya kepada Presiden Prabowo Subianto dalam acara peluncuran Gerakan Wakaf Pendidikan Islam Ditjen Pendidikan Islam Kemenag di Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (16/8/2025).
"Wah, luar biasa itu, Pak Nasaruddin," kata Nasaruddin, menirukan ucapan Prabowo.
Meski begitu, menurut Nasaruddin, sejumlah faktor membuat potensi besar ini belum terealisasi. Ia menyebutkan penyebabnya antara lain pemerintah tidak mengorganisir dengan baik, rendahnya literasi umat tentang wakaf, lemahnya tata kelola, hingga masalah kepastian hukum tanah wakaf yang belum selesai. Selain itu, profesionalisme Nazir dinilai masih minim.
"Nah, kalau ini semua kita berdayakan, Bapak Presiden, kita mengumpulkan dana umat itu Rp 500 triliun per tahun," kata Nasaruddin.
Penjelasan Nasaruddin membuat Presiden Prabowo kemudian menanyakan kantor-kantor lembaga pengelola dana umat yang ada saat ini, seperti Badan Amil Zakat Infak Sedekah Nasional (Baznas). Nasaruddin menyampaikan bahwa Baznas, Badan Wakaf Indonesia (BWI), maupun lembaga terkait lain masih terpencar-pencar.
Ia lalu mencontohkan Malaysia yang sudah memiliki satu gedung khusus untuk mengelola dana umat. Dari perbandingan itu, muncul gagasan agar Indonesia juga memiliki gedung terpusat untuk lembaga-lembaga pengelola dana umat.
"Bagaimana kalau kita cari satu tempat yang strategis untuk mengumpulkan dana umat yang sebanyak itu," kata Nasaruddin, menirukan Prabowo.
"Wah, luar biasa itu, Pak Nasaruddin," kata Nasaruddin, menirukan ucapan Prabowo.
Meski begitu, menurut Nasaruddin, sejumlah faktor membuat potensi besar ini belum terealisasi. Ia menyebutkan penyebabnya antara lain pemerintah tidak mengorganisir dengan baik, rendahnya literasi umat tentang wakaf, lemahnya tata kelola, hingga masalah kepastian hukum tanah wakaf yang belum selesai. Selain itu, profesionalisme Nazir dinilai masih minim.
"Nah, kalau ini semua kita berdayakan, Bapak Presiden, kita mengumpulkan dana umat itu Rp 500 triliun per tahun," kata Nasaruddin.
Penjelasan Nasaruddin membuat Presiden Prabowo kemudian menanyakan kantor-kantor lembaga pengelola dana umat yang ada saat ini, seperti Badan Amil Zakat Infak Sedekah Nasional (Baznas). Nasaruddin menyampaikan bahwa Baznas, Badan Wakaf Indonesia (BWI), maupun lembaga terkait lain masih terpencar-pencar.
Ia lalu mencontohkan Malaysia yang sudah memiliki satu gedung khusus untuk mengelola dana umat. Dari perbandingan itu, muncul gagasan agar Indonesia juga memiliki gedung terpusat untuk lembaga-lembaga pengelola dana umat.
"Bagaimana kalau kita cari satu tempat yang strategis untuk mengumpulkan dana umat yang sebanyak itu," kata Nasaruddin, menirukan Prabowo.