home masjid

Mengurai Akar Sufi: Antara Teori Subyektif dan Realitas Spiritual

Selasa, 19 Agustus 2025 - 18:31 WIB
Sufisme bukan sekadar warisan teks, melainkan laku hidup yang tak bisa dipenjara oleh teori. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di tengah maraknya kajian akademik tentang Sufisme, perdebatan lama terus bergema: dari mana asal gagasan-gagasan Sufi? Sebagian pakar berkeras bahwa tasawuf adalah hasil interaksi Islam dengan tradisi luar—Kristen, Persia, India, hingga Neoplatonisme. Lainnya menganggapnya murni lahir dari rahim Islam.

“Diskusi ini kerap berubah jadi arena pengulangan teori lama yang tak terbukti, namun diwariskan seolah fakta,” tulis Idries Shah dalam bukunya The Way of the Sufi (diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha, Risalah Gusti, 1999).

Idries Shah menyindir, para spesialis yang miskin obyektivitas itu lebih suka membandingkan tasawuf dengan Shamanisme, Bhakti Hindu, atau bahkan Knights Templar, ketimbang melihat kedalaman praksis spiritual Islam. “Gambarnya seperti orang memperdebatkan apakah besi berasal dari Swedia atau Jepang,” tulisnya.

Persoalannya, lanjut Idries Shah, kajian akademik kerap kehilangan roh utama Sufisme: transmisi langsung lewat simbol, tubuh, dan peragaan. “Ketika kita hanya bergantung pada buku, kita masuk dalam kuasa teori-teori subyektif,” tegasnya.

Idries Shah bahkan menyinggung bagaimana jejak sufistik bisa dikenali dalam karya-karya Barat: dari legenda William Tell, puisi troubadour Prancis, Shakespeare, hingga psikologi Kenneth Walker.

Baca juga: Tasawuf: Jejak Asketisme, Lintas Perdebatan, dan Bayang-Bayang Asing di Tubuh Islam


Sufisme, menurutnya, bekerja seperti air yang merembes: tak terlihat di permukaan, tapi menghidupi lapisan budaya dan spiritualitas yang lebih dalam. Di sinilah tarik-menarik itu terjadi. Akademisi mencari kategori, apakah sufisme ilmu jiwa, teologi, atau sekadar folklore?
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya