Jalan Sufi: Perjalanan Terpanjang, Bukan tentang Jarak
Miftah yusufpati
Senin, 25 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Perjalanan terpanjang, ternyata, bukan tentang jarak. Ia tentang kedalaman. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Tiga sosok bersorban muncul dari balik bukit pasir. Langkah mereka lambat, pakaian berdebu, wajah tak menampakkan kemenangan—hanya ketenangan yang dalam. Mereka baru saja kembali dari pengembaraan yang disebut Perjalanan Terpanjang. Orang-orang berkerumun, haus jawaban.
“Apa yang membuat kalian mampu menempuh perjalanan itu? Bagaimana kalian bertahan dari kesulitan, mengalahkan rasa lapar, dan akhirnya kembali dengan selamat?” tanya seseorang di antara kerumunan.
Darwis pertama menatap sekeliling, lalu berujar tenang: “Kucing dan tikus.” Kerumunan terkejut. Ia menambahkan, “Mengamati keduanya di dunia yang umum mengajari aku pentingnya keseimbangan antara kesunyian dan kegiatan.”
Darwis kedua melangkah maju. “Makanan,” katanya, singkat. Sebagian orang terkekeh, tapi ia melanjutkan, “Karena ia membuatku mampu bertahan dan memahami.”
Yang ketiga bersuara lirih, seakan menahan napas panjang. “Latihan,” ucapnya. “Karena ia mengajari aku untuk aktif dan bersatu.”
Baca juga: Jejak Tarekat Suhrawardi: Dari Keheningan Sufi ke Tren Meditasi Korporasi
Tiga jawaban sederhana, tapi justru di situlah teka-teki bermula. Orang-orang yang bebal mencoba menirunya secara harfiah. Mereka memelihara kucing, memerangkap tikus, menahan lapar berhari-hari, dan mengulang gerakan tubuh. Namun tak satu pun yang berhasil. Idries Shah dalam Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma’rifat menulis, “Setidaknya mereka menempatkan diri mereka, dalam kenyataan jika bukan dalam penampilan, di luar jalan kaum darwis.”
“Apa yang membuat kalian mampu menempuh perjalanan itu? Bagaimana kalian bertahan dari kesulitan, mengalahkan rasa lapar, dan akhirnya kembali dengan selamat?” tanya seseorang di antara kerumunan.
Darwis pertama menatap sekeliling, lalu berujar tenang: “Kucing dan tikus.” Kerumunan terkejut. Ia menambahkan, “Mengamati keduanya di dunia yang umum mengajari aku pentingnya keseimbangan antara kesunyian dan kegiatan.”
Darwis kedua melangkah maju. “Makanan,” katanya, singkat. Sebagian orang terkekeh, tapi ia melanjutkan, “Karena ia membuatku mampu bertahan dan memahami.”
Yang ketiga bersuara lirih, seakan menahan napas panjang. “Latihan,” ucapnya. “Karena ia mengajari aku untuk aktif dan bersatu.”
Baca juga: Jejak Tarekat Suhrawardi: Dari Keheningan Sufi ke Tren Meditasi Korporasi
Tiga jawaban sederhana, tapi justru di situlah teka-teki bermula. Orang-orang yang bebal mencoba menirunya secara harfiah. Mereka memelihara kucing, memerangkap tikus, menahan lapar berhari-hari, dan mengulang gerakan tubuh. Namun tak satu pun yang berhasil. Idries Shah dalam Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma’rifat menulis, “Setidaknya mereka menempatkan diri mereka, dalam kenyataan jika bukan dalam penampilan, di luar jalan kaum darwis.”