LANGIT7.ID-Di gang-gang tua Baghdad, nama Junaid al-Baghdadi dijaga dalam ingatan para sufi. Dari disiplin yang dia tanamkan, ratusan tahun kemudian lahirlah tokoh bernama Syeikh Ziauddin Jahib Suhrawardi. Ia dianggap pendiri resmi Tarekat Suhrawardi pada abad ke-11 Masehi.
Sama seperti tarekat-tarekat lain, Suhrawardi tumbuh dalam jaringan yang cair. Guru-guru mereka diterima oleh pengikut Naqsyabandi, Qadiriyah, dan lainnya. Mereka menekankan keseimbangan antara syariat, hakikat, dan akhlak. “Esensi tarekat bukan sekadar wirid, tetapi latihan jiwa,” tulis Idries Shah dalam
The Sufis (1964).
Jejak mereka meluas. Dari Persia, India, hingga Afrika. Para murid menyebarkan doktrin dan amalan, membentuk simpul-simpul spiritual di kota dan desa. Dalam catatan Carl Ernst, profesor studi agama dari University of North Carolina, “Suhrawardi adalah contoh bagaimana tasawuf menyesuaikan diri dengan ruang sosial—dari pengadilan istana hingga pedalaman” (
Sufism: An Introduction to the Mystical Tradition of Islam, 1997).
Namun, berbeda dari stereotip sufi yang identik dengan ekstase, Suhrawardi mengutamakan latihan diam. Dari kegembiraan mistik menuju samt mutlak—keheningan total. Bagi mereka, diam bukan sekadar menahan kata, tetapi jalan untuk melihat “Realitas”.
Baca juga: Tarekat Chisytiyah: Menjadikan Musik sebagai Jembatan Menuju Ma’rifat, Instruksi tarekat mereka unik. Banyak berupa legenda, kisah simbolik, atau bahkan fiksi. Tujuannya bukan hiburan, melainkan alat untuk mengasah kesadaran murid. “Tanpa persiapan, seorang murid hanya akan masuk ke kondisi pikiran yang berubah—bukan pencerahan,” tulis Shah.
Antara Zikir dan MindfulnessApakah metode kuno ini masih relevan? Jawabannya: ya, bahkan semakin kontekstual. Dunia modern dilanda kelelahan kolektif. Stres, depresi, dan kecemasan menjadi epidemi. Orang mencari pelarian: dari yoga hingga mindfulness.
Ironisnya, teknik yang hari ini dijual sebagai “mindfulness” punya irisan dengan ajaran sufi lama. Dalam tarekat, zikir bukan sekadar ritual, tetapi kesadaran penuh terhadap kehadiran Ilahi. “Zikir adalah mengikat hati agar tidak melayang,” kata Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin.
Psikolog kontemporer seperti Jon Kabat-Zinn, pelopor Mindfulness-Based Stress Reduction, menekankan kehadiran penuh (present moment awareness). Hal yang sama diajarkan sufi: hudur al-qalb—hadirnya hati. Bedanya, sufi tidak berhenti pada “diri”, tetapi menuju Tuhan.
Menurut Annemarie Schimmel dalam
Mystical Dimensions of Islam (1975), “Latihan-latihan ini bukan pelarian, melainkan proses pembentukan manusia utuh.” Sebuah kritik terhadap spiritualitas populer yang sering berhenti pada relaksasi, tanpa transformasi moral.
Baca juga: Ketika Tarekat Menjadi Konten: Nasib Sufi di Era Budaya Cepat Saji Spiritualitas di Tengah KapitalismeHari ini, banyak yang mempraktikkan meditasi untuk produktivitas. Sesi mindfulness masuk kantor, jadi alat korporasi menekan stres karyawan. Suhrawardi pasti gelisah melihat ini. Bagi mereka, diam bukan trik manajemen, melainkan cara meruntuhkan ego.
Sebagaimana dicatat Seyyed Hossein Nasr dalam
The Garden of Truth (2007): “Tasawuf sejati menolak menjadikan spiritualitas sebagai komoditas.” Kritik ini tepat. Kita hidup di era McMindfulness—istilah yang dipopulerkan Ronald Purser untuk menggambarkan komersialisasi meditasi.
Maka, Tarekat Suhrawardi menawarkan sesuatu yang hilang: kedalaman. Latihan diam mereka bukan sekadar teknik, tetapi jalan menuju ma’rifah—pengenalan hakikat. Tidak berhenti pada “calmness”, melainkan etika dan akhlak.
Jejak yang BertahanDi India, pengaruh Suhrawardi masih terasa di Chishtiyah. Di Afrika Utara, ritusnya bercampur dengan tradisi lokal. Bahkan, sebagian tokoh modern mengadopsi prinsipnya dalam program terapi spiritual.
Apakah kita harus masuk tarekat untuk menemukan makna? Tidak. Tapi ada pelajaran: bahwa kesadaran penuh bukan milik Timur jauh atau Barat modern. Ia sudah lama ada, di zawiyah sufi, di ruang-ruang sunyi para murid Suhrawardi.
Baca juga: Kisah Sufi Tarekat Rifaiyyah: Putri yang Tidak Patuh Di dunia yang bising oleh notifikasi, mungkin kita justru perlu belajar dari mereka: berdiam, mendengar, hadir. Sebagaimana dikatakan Junaid, guru awal tasawuf: “Jalan ini dibangun di atas diam, bukan bicara.”
(mif)