LANGIT7.ID-Genderang ditabuh. Seruling melengking lirih, memecah lengang kota-kota di Khurasan. Begitulah cara para darwis pengelana dari tarekat Chisyti mendekatkan manusia pada ruang sunyi, jauh sebelum istilah spiritualitas modern menjadi komoditas gaya hidup. Mereka muncul tanpa kemegahan, hanya membawa instrumen musik, lalu duduk di alun-alun untuk mengisahkan legenda—dongeng yang di dalamnya tersembunyi petunjuk jalan bagi yang mau menyingkapnya.
Tarekat ini lahir di Chisyt, sebuah desa terpencil di Khurasan, Persia. Penggagasnya adalah Khwaja Abu Ishaq Chisyti, sosok yang disebut Idries Shah sebagai “orang Syria”, lahir pada awal abad ke-10. Ia dikisahkan sebagai keturunan Nabi Muhammad, pewaris jalur batiniah Ahlul Bait. Bagi pengikutnya, Abu Ishaq bukan sekadar guru; ia adalah simbol keterhubungan antara ilmu lahir dan ma’rifat batin. Garis silsilah rohaniah itu kemudian bercabang, membentuk jaringan pengembara spiritual yang dikenal sebagai Naqsyabandiyah—“orang-orang yang bertujuan”. (
Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma’rifat, Idries Shah, 1999).
Namun Chisytiyah punya ciri unik. Jika tarekat lain mengandalkan zikir diam atau wirid panjang, Chisytiyah memilih musik. Bagi mereka, irama bukan sekadar hiburan, melainkan alat membangkitkan getaran rasa, mengarahkan emosi untuk melampaui batas-batas kesadaran biasa. “Mereka menggunakan musik dalam latihan-latihan mereka,” tulis Shah. Nada dipakai bukan untuk mabuk ekstase, tapi sebagai jembatan menuju keheningan terdalam.
Baca juga: Ketika Tarekat Menjadi Konten: Nasib Sufi di Era Budaya Cepat Saji Fenomena ini kemudian melahirkan citra ganda. Di satu sisi, praktik musik membuat Chisytiyah dekat dengan masyarakat. Para darwis mereka disambut bak pelawak keliling, apalagi mereka gemar memadukan cerita dan humor. Etimologi Eropa bahkan mencatat jejaknya. Dalam kamus Barat, istilah Latin gerere (“melakukan”) yang melahirkan kata “pelawak” diyakini berkaitan dengan Chist Afghanistan—sebutan bagi darwis Chisyti pengelana. “Jejaknya bahkan sampai ke Spanyol,” tulis Shah, merujuk kesamaan pakaian dan instrumen mereka dengan kelompok hiburan rakyat di Andalusia.
Di sisi lain, pendekatan musikal ini memicu kesalahpahaman. “Pembangkitan emosional yang dihasilkan musik dikacaukan dengan pengalaman spiritual,” kata Shah. Banyak yang terjebak pada ekstase, bukan esensi. Seperti semua tarekat, Chisytiyah awalnya dirancang sebagai jalan sadar menuju Tuhan, bukan pelarian rasa. Tetapi ketika musik menjadi ritual tanpa pemahaman, ia kehilangan kedalaman.
Meski begitu, pengaruh Chisytiyah mengakar kuat di India. Sembilan abad lamanya, mereka membentuk wajah mistisisme anak benua itu. Dari Delhi hingga Ajmer, makam para wali Chisyti menjadi pusat ziarah. Di sanalah lahir tradisi qawwali—musik religius yang kelak mendunia lewat suara-suara seperti Nusrat Fateh Ali Khan. “Musisi mereka dihargai di seluruh benua,” tulis Shah, menegaskan betapa nada dan kata tetap menjadi bahasa universal kerinduan.
Baca juga: Kisah Sufi Tarekat Rifaiyyah: Putri yang Tidak Patuh Chisytiyah adalah paradoks. Di satu sisi, ia tampak sederhana: kumpulan darwis pengelana yang menabuh genderang. Di sisi lain, ia adalah jaring sunyi yang menautkan Khurasan, India, dan bahkan Eropa dalam satu simpul makna: mencari Tuhan lewat harmoni. Seribu tahun lebih setelah Abu Ishaq Chisyti menanam benihnya, musik itu masih berdenting—kadang sebagai irama yang mengantar jiwa, kadang sekadar hiburan pasar.
(mif)