home global news

Rais Syuriyah PBNU Cholil Nafis Tegaskan Peran Pemimpin Agama dalam Perdamaian Dunia di Summit Internasional

Kamis, 28 Agustus 2025 - 13:37 WIB
Rais Syuriyah PBNU Cholil Nafis Tegaskan Peran Pemimpin Agama dalam Perdamaian Dunia di Summit Internasional
LANGIT7.ID-Jakarta;Rais Syuriyah PBNU KH. Muhammad Cholil Nafis menegaskan peran penting pemimpin agama dalam membangun perdamaian global saat tampil sebagai narasumber di The 2nd International Summit of Religious Leaders, 28 Agustus 2025. Dalam forum yang bertema The Role of Religious Leaders in Solving Conflicts itu, beliau memaparkan pengalaman NU dalam menyebarkan perdamaian serta menyelesaikan konflik di tingkat nasional maupun internasional.

KH. Cholil Nafis menekankan bahwa agama merupakan salah satu fondasi terpenting dalam membangun masyarakat manusia. Agama tidak hanya sebatas ritual dan ibadah, tetapi juga sistem nilai dan etika yang mengarahkan perilaku, mengatur hubungan sosial, serta membentuk kehidupan bersama. Oleh karena itu, tokoh agama harus berperan sebagai pemersatu, bukan justru menjadi sumber konflik.

Menurutnya, pemimpin agama memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai moral, memperkuat spiritualitas, mendorong rekonsiliasi, hingga berperan dalam politik kebangsaan. “Agama dan para pemimpin agama merupakan pilar utama dalam membangun perdamaian, baik di tingkat nasional maupun global,” tegasnya dalam keterangan resmi, Kamis (28/8/2025).

Peran itu diwujudkan dengan memperkuat wacana keagamaan moderat, melakukan mediasi, serta meneguhkan budaya dialog.

Lebih lanjut, KH. Cholil Nafis menjelaskan kontribusi Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sekaligus salah satu organisasi keagamaan terbesar di dunia. NU tidak hanya berpengaruh di tanah air, tetapi juga aktif dalam penyelesaian konflik global.

Dua pendekatan utama yang diusung NU adalah: pertama, landasan pemikiran berbasis maqāṣid al-syarī‘ah yang menekankan pentingnya menjaga jiwa, martabat kemanusiaan, keadilan, dan kemaslahatan universal; kedua, metode dialog antaragama dan antarbudaya untuk memperkuat saling pengertian dan menolak kebencian.

Beliau juga mencontohkan Indonesia sebagai model negara yang berhasil memadukan pluralisme etnis dan agama melalui Pancasila. “Keberagaman di Indonesia tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan sumber kekuatan dan persatuan. Pancasila sebagai dasar negara menjadi komitmen sosial-kebangsaan yang mampu menyatukan seluruh rakyat Indonesia,” jelasnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya