home masjid

Dua Serigala dalam Hati: Ketamakan yang Menggerogoti Moral

Selasa, 09 September 2025 - 16:48 WIB
Globalisasi melahirkan bentuk baru cinta dunia: kapitalisme rakus, kultus selebritas, dan politik uang. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pagi itu, headline koran menyorot kabar yang sudah lumrah: pejabat publik ditangkap KPK karena kasus suap. Masyarakat pun bergumam: “Serakah!” Kata yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung penyakit lama yang tak pernah usang—cinta harta dan kedudukan.

Hadis Nabi Muhammad SAW mengibaratkannya dengan metafora yang mencolok: *“Dua ekor serigala lapar yang dilepaskan ke tengah kawanan kambing tidak lebih merusak dibandingkan ketamakan seseorang terhadap harta dan kehormatan.”* (HR. Ahmad, Tirmidzi). Perumpamaan ini bukan sekadar ungkapan moral, melainkan analisis sosial yang abadi.

Syaikh Yusuf al-Qardhawi, dalam Fiqh Prioritas(1996), menulis bahwa ketamakan bukan sekadar dorongan memiliki, melainkan ambisi yang melumpuhkan prinsip hidup. “Ia memaksa manusia mengorbankan iman demi status duniawi,” tulis Qardhawi.

Baca juga: Merespons Kasus Gus Miftah, Ketua PBNU: Dakwah Harus Mengutamakan Kelembutan dan Adab

Pandangan ini selaras dengan pemikiran klasik Imam al-Ghazali. Dalam Ihya’ Ulum al-Din, ia menggolongkan cinta dunia—khususnya terhadap harta dan kekuasaan—sebagai *al-muhlikat*, faktor-faktor yang membinasakan jiwa. “Serakah adalah akar segala keburukan, sebab ia memicu kesombongan, kebencian, dan kezaliman,” tulisnya.

Al-Qur’an pun menegaskan bahaya ini: *“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian di bumi dan tidak berbuat kerusakan. Kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”* (QS. al-Qashash: 83).

Dari Ambisi ke Tragedi Sosial
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya