LANGIT7.ID-Pagi itu, headline koran menyorot kabar yang sudah lumrah: pejabat publik ditangkap KPK karena kasus suap. Masyarakat pun bergumam: “Serakah!” Kata yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung penyakit lama yang tak pernah usang—cinta harta dan kedudukan.
Hadis Nabi Muhammad SAW mengibaratkannya dengan metafora yang mencolok: *“Dua ekor serigala lapar yang dilepaskan ke tengah kawanan kambing tidak lebih merusak dibandingkan ketamakan seseorang terhadap harta dan kehormatan.”* (HR. Ahmad, Tirmidzi). Perumpamaan ini bukan sekadar ungkapan moral, melainkan analisis sosial yang abadi.
Syaikh Yusuf al-Qardhawi, dalam
Fiqh Prioritas (1996), menulis bahwa ketamakan bukan sekadar dorongan memiliki, melainkan ambisi yang melumpuhkan prinsip hidup. “Ia memaksa manusia mengorbankan iman demi status duniawi,” tulis Qardhawi.
Baca juga: Merespons Kasus Gus Miftah, Ketua PBNU: Dakwah Harus Mengutamakan Kelembutan dan Adab Pandangan ini selaras dengan pemikiran klasik Imam al-Ghazali. Dalam
Ihya’ Ulum al-Din, ia menggolongkan cinta dunia—khususnya terhadap harta dan kekuasaan—sebagai *al-muhlikat*, faktor-faktor yang membinasakan jiwa. “Serakah adalah akar segala keburukan, sebab ia memicu kesombongan, kebencian, dan kezaliman,” tulisnya.
Al-Qur’an pun menegaskan bahaya ini: *“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian di bumi dan tidak berbuat kerusakan. Kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”* (QS. al-Qashash: 83).
Dari Ambisi ke Tragedi SosialKetamakan sering kali lahir dengan wajah manis: ambisi. Dalam kadar wajar, ambisi memacu manusia bekerja dan berinovasi. Namun, ketika ia berubah menjadi kerakusan, dampaknya bisa lebih brutal daripada dua serigala lapar.
Ibnu Khaldun dalam
Muqaddimah (abad ke-14) menyebut kerakusan elite sebagai awal kehancuran peradaban. “Negara runtuh karena penguasa lebih mencintai kekayaan dan kehormatan daripada keadilan,” tulisnya. Sejarah Romawi, Abbasiyah, hingga kerajaan-kerajaan modern menjadi buktinya.
Dalam konteks Indonesia, laporan
Corruption Perceptions Index (Transparency International, 2023) menempatkan negeri ini di skor 34/100—tanda bahwa virus ketamakan masih bersarang di birokrasi.
Mengapa manusia tak pernah puas? Richard Thaler, peraih Nobel Ekonomi, dalam
Misbehaving (2015) menjelaskan teori
loss aversion: manusia lebih takut kehilangan daripada senang mendapatkan. Rasa takut inilah yang mendorong akumulasi tanpa batas—entah harta, jabatan, atau pengaruh.
Dalam psikologi sosial, fenomena ini disebut
scarcity mindset: keyakinan bahwa sumber daya terbatas, sehingga orang berjuang mati-matian merebut bagian, meskipun harus melanggar etika.
Pemimpin yang MenyesalNabi SAW mengingatkan: “Sesungguhnya kamu akan tamak kepada kepemimpinan, padahal ia akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Alangkah bahagianya orang yang menyusuinya, dan alangkah ruginya orang yang disapih.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Analogi ini tajam. Kekuasaan memang seperti susu: manis di awal, tetapi menyisakan pahit ketika habis. Sayangnya, kesadaran ini sering datang terlambat—ketika jabatan raib, nama tercoreng, dan penyesalan menjadi warisan.
Islam menawarkan terapi: menaklukkan cinta dunia dengan menanamkan kesadaran akhirat. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia. Sedekah, zakat, dan wakaf bukan sekadar amal, tetapi mekanisme sosial untuk meredam kerakusan dan menegakkan keadilan.
Qardhawi menekankan urgensi pendidikan moral yang mengajarkan *fiqh prioritas*: menempatkan nilai iman dan solidaritas di atas ambisi material. Sebab, cinta dunia bukan hanya membinasakan individu, tapi juga merusak struktur sosial.
Ironisnya, globalisasi melahirkan bentuk baru cinta dunia: kapitalisme rakus, kultus selebritas, dan politik uang. Laporan
World Inequality Report 2022 mencatat, 10 persen orang terkaya menguasai 76 persen kekayaan dunia. Apakah ini sekadar ketimpangan ekonomi, atau tanda bahwa dua serigala lapar kini menjelma raksasa yang merayap di seluruh planet?
(mif)