home masjid

Ketika Nafsu Jadi Tuhan: Ancaman Abadi dari Al-Qur’an hingga Era Digital

Rabu, 10 September 2025 - 04:15 WIB
Peringatan ini seakan menantang kita: siapa yang sebenarnya kita sembah? Tuhan yang Maha Esa atau nafsu yang bercokol di dada? Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah majelis kecil di Kairo, Syaikh Yusuf al-Qardhawi pernah menulis peringatan yang menohok: “Di antara hal-hal yang membinasakan manusia adalah hawa nafsu yang dituruti.” (Fiqh Prioritas, 1996). Peringatan ini seolah tak lekang dimakan zaman. Dari istana kekuasaan hingga pasar saham, dari ruang politik sampai media sosial, hawa nafsu selalu menemukan jalannya.

Bahkan Al-Qur’an menegaskan ancaman itu dalam kalimat yang gamblang: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya...” (QS al-Jatsiyah: 23). Bagi para mufasir klasik seperti Imam al-Ghazali, ayat ini bukan sekadar metafora. “Ketika akal tunduk kepada syahwat, maka ia telah menyembah selain Allah,” tulis al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin.

Fenomena mengikuti hawa nafsu (ittiba’ al-hawa) bukan isu moral belaka, melainkan ancaman struktural. Dalam tafsir al-Qurthubi, disebutkan bahwa hawa nafsu adalah pangkal kezhaliman, bahkan kepada diri sendiri. Ia menafsirkan QS Shad: 26—“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”—sebagai peringatan keras bagi pemegang kekuasaan.

“Ketika keputusan hukum dicemari kepentingan pribadi, maka ia telah menyalahi amanah ilahi,” tulis al-Qurthubi (Tafsir al-Qurthubi, jilid 15). Pesan ini kontekstual dengan peringatan Nabi kepada para qadhi (hakim): “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HR Ahmad).

Baca juga: Hawa Nafsu: Raja Tanpa Mahkota yang Menjerat Manusia

Sejarah Islam mencatat bagaimana hawa nafsu menjadi sumber malapetaka politik. Perang Shiffin pada 657 M misalnya, lahir dari ambisi kekuasaan yang gagal dijinakkan. Nurcholish Madjid dalam Islam, Doktrin, dan Peradaban(1987) menyebut perang itu sebagai bukti bahwa syahwat kekuasaan dapat menandingi idealisme iman.

“Pada titik tertentu,” tulis Cak Nur, “agama hanya menjadi legitimasi, sementara kekuasaan yang dikejar.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya