LANGIT7.ID- Dalam jagat tafsir Islam, hawa nafsu kerap diibaratkan api yang terus menyala dalam jiwa manusia. Ia tidak tampak seperti pedang atau peluru, tetapi daya rusaknya lebih dahsyat. “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah,” begitu peringatan tegas Allah kepada Nabi Dawud, sebagaimana tertulis dalam Surat Shad ayat 26.
Peringatan itu tidak berhenti di sana. Nabi Muhammad, utusan terakhir, juga menerima perintah serupa: “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya...” (al-Kahfi: 28). Dalam bahasa Syaikh Yusuf al-Qardhawi, hawa nafsu adalah “raja tanpa mahkota” yang siap menundukkan manusia kapan saja. (Fiqh Prioritas, Robbani Press, 1996).
Al-Qur’an mengisyaratkan, siapa pun yang mengangkat hawa nafsu sebagai penentu arah hidup akan menjadi buta dan tuli. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (al-Jatsiyah: 23). Ibn Abbas, sahabat Nabi, bahkan menyebut hawa nafsu sebagai “tuhan manusia yang paling jelek di bumi.”
Mengapa? Karena ia tidak sekadar memalingkan manusia dari kebenaran, tapi menutup seluruh pintu kesadaran. Di sinilah, kata al-Qardhawi, bahaya terbesar mengintai: orang yang dikuasai nafsu akan merasa benar meski salah, mulia meski hina.
Baca juga: Ketika Nafsu Diatur Syariat: Di Balik Ranjang Rumah Tangga Muslim Ketika Jumlah Jadi KebanggaanTak hanya hawa nafsu, Nabi juga mengingatkan tiga racun mematikan: takjub terhadap diri sendiri, riya’, dan cinta dunia. Sejarah mencatat, kaum Muslimin pernah jatuh karena kesombongan. Perang Hunain menjadi pelajaran pahit. “Kamu congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun,” tulis Al-Qur’an dalam Surat at-Taubah ayat 25-26.
Ali bin Abi Thalib punya kalimat tajam soal ini: “Keburukan yang engkau lakukan lebih baik daripada kebaikan yang membuatmu sombong.” Dalam tafsir Atha, sombong adalah jebakan ketaatan—ibadah yang tampak mulia tapi sesungguhnya racun bagi hati.
Lebih jauh, al-Qardhawi mengurai satu penyakit hati yang kerap tersembunyi di balik ibadah: riya’—memamerkan amal untuk pujian manusia. “Mereka bermaksud riya’ dengan shalat,” begitu bunyi Surat an-Nisa ayat 142. Bahkan, Al-Qur’an menuding keras mereka yang shalat hanya demi citra: “Maka celakalah orang yang shalat... orang-orang yang berbuat riya’,” (al-Ma’un: 4-7).
Hadis Qudsi melukiskan murka Tuhan terhadap riya’: “Aku adalah sekutu yang paling kaya. Barang siapa menyekutukan-Ku dalam amalnya, Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” Dalam riwayat Muslim, tiga orang yang dianggap paling mulia—syuhada, ahli ilmu, dan dermawan—justru dilempar ke neraka karena niat mereka cacat: semua demi popularitas.
Baca juga: Menikah, antara Fitrah dan Syariat: Ketika Nafsu Bertemu Tuntunan Ilahi Jalan Keluar: Mengalahkan EgoDalam perspektif Fiqh Prioritas, jalan keselamatan terletak pada pengendalian diri. Allah menegaskan: “Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya,” (an-Nazi’at: 40-41).
Qardhawi menutup dengan refleksi tajam: jihad terbesar bukan melawan musuh di medan perang, tapi melawan ego yang bersarang dalam dada. Sebab, ia tidak mati meski tubuh dimakamkan. Ia hidup, menyelinap, dan kadang berwajah ibadah.
(mif)