home masjid

Jalaluddin Rumi: Dari Hakim Syariat ke Penyair Cinta

Jum'at, 19 September 2025 - 16:30 WIB
Rumi pernah jadi mufti dan hakim. Kehilangan Syams membuatnya menumpahkan duka jadi bait cinta yang kini mendunia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Setiap tahun, ribuan orang dari seluruh dunia memadati kompleks makam Jalaluddin Rumi di Konya. Mereka datang bukan hanya untuk mengenang puisi mistiknya yang mendunia, tapi juga untuk mencari keteduhan jiwa. Namun, di balik sosok penyair dan sufi besar ini, Rumi punya sisi lain yang jarang dibicarakan: seorang faqih yang tegas, hakim syariat yang dihormati, dan ayah yang penuh kegelisahan.

Rumi lahir di Balkh (sekarang Afghanistan) tahun 1207. Ayahnya, Baha’ Walad, adalah seorang ulama fiqh dan khatib yang populer. Keluarga mereka hijrah ke Anatolia ketika invasi Mongol mengguncang Asia Tengah. Menurut Franklin D. Lewis dalam Rumi: Past and Present, East and West (2000), migrasi ini bukan sekadar perjalanan geografis, tapi juga spiritual.

Di Konya, Rumi menempuh pendidikan klasik Islam: tafsir, hadis, dan fiqh. Ia belajar di Aleppo dan Damaskus, berguru pada ulama besar seperti Kamal al-Din ibn al-Adim. “Rumi bukan sekadar penyair sufi. Ia seorang alim dalam tradisi hukum Islam,” tulis Lewis.

Baca juga: Kisah Sufi Jalaluddin Rumi: Orang yang Murah Hati

Rumi Sang Mufti

Sebelum bertemu Syamsuddin Tabrizi, Rumi dikenal sebagai mufti dan guru fiqh. Ia memberikan fatwa, mengajar murid-murid, dan bahkan menjadi hakim. “Banyak orang datang kepadanya untuk meminta keputusan hukum,” tulis Annemarie Schimmel dalam The Triumphal Sun (1978).

Schimmel menekankan, Rumi menjalani peran ganda: seorang ulama yang taat syariat sekaligus pencari jalan batin. “Ia berdiri di jembatan antara hukum dan cinta.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya