LANGIT7.ID-Setiap tahun, ribuan orang dari seluruh dunia memadati kompleks makam Jalaluddin Rumi di Konya. Mereka datang bukan hanya untuk mengenang puisi mistiknya yang mendunia, tapi juga untuk mencari keteduhan jiwa. Namun, di balik sosok penyair dan sufi besar ini, Rumi punya sisi lain yang jarang dibicarakan: seorang faqih yang tegas, hakim syariat yang dihormati, dan ayah yang penuh kegelisahan.
Rumi lahir di Balkh (sekarang Afghanistan) tahun 1207. Ayahnya, Baha’ Walad, adalah seorang ulama fiqh dan khatib yang populer. Keluarga mereka hijrah ke Anatolia ketika invasi Mongol mengguncang Asia Tengah. Menurut Franklin D. Lewis dalam Rumi: Past and Present, East and West (2000), migrasi ini bukan sekadar perjalanan geografis, tapi juga spiritual.
Di Konya, Rumi menempuh pendidikan klasik Islam: tafsir, hadis, dan fiqh. Ia belajar di Aleppo dan Damaskus, berguru pada ulama besar seperti Kamal al-Din ibn al-Adim. “Rumi bukan sekadar penyair sufi. Ia seorang alim dalam tradisi hukum Islam,” tulis Lewis.
Baca juga: Kisah Sufi Jalaluddin Rumi: Orang yang Murah Hati Rumi Sang MuftiSebelum bertemu Syamsuddin Tabrizi, Rumi dikenal sebagai mufti dan guru fiqh. Ia memberikan fatwa, mengajar murid-murid, dan bahkan menjadi hakim. “Banyak orang datang kepadanya untuk meminta keputusan hukum,” tulis Annemarie Schimmel dalam
The Triumphal Sun (1978).
Schimmel menekankan, Rumi menjalani peran ganda: seorang ulama yang taat syariat sekaligus pencari jalan batin. “Ia berdiri di jembatan antara hukum dan cinta.”
Kehidupan Rumi berbelok tajam ketika ia bertemu Syamsuddin Tabrizi pada 1244. Syams, seorang darwish pengembara, mengguncang hidupnya. Pertemuan mereka hanya berlangsung empat tahun, tapi cukup untuk mengubah seorang faqih menjadi penyair mistikus.
“Syams adalah api yang membakar dinding-dinding rasionalitas Rumi,” tulis Abdul Karim Soroush dalam
Rumi and the Problem of Religious Diversity (2000). Setelah Syams menghilang secara misterius, Rumi menumpahkan kerinduan itu dalam ribuan bait puisi yang kelak dikenal sebagai Divan-i Syams-i Tabrizi.
Rumi Sang AyahNamun Rumi juga manusia biasa. Ia punya keluarga, anak-anak, dan tanggung jawab domestik. Muridnya, Aflaki, dalam Manaqib al-Arifin mencatat bahwa Rumi kerap khawatir soal masa depan putra-putranya. Ia marah ketika Sultan Walad, anak sulungnya, malas mengajar.
“Citra Rumi sebagai pecinta universal sering menutupi fakta bahwa ia seorang ayah yang keras dalam mendidik,” kata Jawid Mojaddedi dalam
Beyond Dogma: Rumi’s Teachings on Friendship with God and Early Sufi Theories (2004).
Baca juga: Fabel Jalaluddin Rumi: Burung India Rumi juga tidak selalu lembut. Dalam beberapa bait Mathnawi, ia menulis dengan nada getir terhadap mereka yang mencemooh jalan sufi. “Ada sisi murung dalam diri Rumi, lahir dari kehilangan Syams dan tekanan sosial Konya abad ke-13,” jelas William Chittick dalam
The Sufi Path of Love (1983).
Kemarahan itu bukan tanpa dasar. Setelah Syams menghilang, sebagian sejarawan meyakini ia dibunuh oleh orang-orang dekat Rumi sendiri, termasuk anaknya Alauddin. Luka itu tak pernah sembuh. Puisi-puisinya kemudian menjadi semacam terapi spiritual.
Dari Faqih ke Ikon DuniaKini, dunia mengenal Rumi terutama sebagai penyair cinta. Padahal, ia pernah menulis fatwa, mengajarkan tafsir, dan memutus perkara hukum. Sisi inilah yang sering tenggelam di balik popularitas puisinya.
Namun, seperti dicatat Schimmel, transformasi Rumi justru menunjukkan kelenturan Islam: “Seorang faqih bisa menjadi penyair cinta, dan seorang hakim bisa menjadi darwish. Inilah wajah Islam yang penuh kemungkinan.”
Pada akhirnya, warisan Rumi bukan sekadar puisi mistis yang dikutip dalam kartu ucapan. Ia mengajarkan bahwa cinta tidak meniadakan hukum, melainkan memperdalam maknanya. “Syariat adalah kapal, hakikat adalah lautan,” tulisnya dalam Mathnawi.
Baca juga: Jalaluddin Rumi, Penyair Sufi dengan Karya Abadi di Timur dan Barat Di Konya, para darwish Mevlevi masih menari dalam sema. Putaran itu melambangkan perjalanan dari hukum menuju cinta, dari fiqh menuju fana. Sebuah jalan yang pernah ditempuh Rumi: dari hakim ke penyair, dari syariat ke hakikat.
(mif)