Nizhami: Harta Karun Misteri dari Ganja
Miftah yusufpati
Selasa, 23 September 2025 - 04:15 WIB
Nizami bukan hanya penyair yang menulis indah. Ia adalah pengingat bahwa sastra bisa menjadi cermin kekuasaan, medium protes, dan jalan menuju kebijaksanaan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di sebuah ruangan perpustakaan di Baku, Azerbaijan, lembaran naskah kuno berusia delapan abad tersimpan di balik kaca berlapis. Huruf-huruf Persia menari di atas kertas usang, dihiasi iluminasi emas dan biru laut. Di halaman depan, tertulis judul Makhzan al-Asrar—Treasury of Mysteries. Inilah karya pembuka dari penyair besar abad ke-12, Nizami Ganjavi, yang di tanah kelahirannya dipuja sebagai “penyair rakyat”, sementara di Barat dikenal sebagai arsitek puisi naratif dunia Islam.
Nizami lahir sekitar tahun 1141 di kota Ganja (kini bagian dari Azerbaijan). Ia hidup pada masa perpecahan politik di bawah dinasti Seljuk, ketika wilayah Persia hingga Kaukasus terbelah dalam perebutan kekuasaan. Justru dalam pusaran itu, Nizami menulis dengan penuh renungan. “Ia bukan penyair istana semata, tapi seorang filsuf yang menaruh kegelisahan etis ke dalam bait-bait panjang,” tulis Julie Scott Meisami dalam Medieval Persian Court Poetry (1987).
Nizami menolak hanya menjadi penghibur sultan. Ia memilih berdiri di pinggir lingkaran kekuasaan, menulis karya yang melampaui zamannya. Makhzan al-Asrar, yang ia rampungkan sekitar 1163, menjadi pintu masuk pada mahakaryanya: Khamsa atau Pentalogi—lima puisi epik yang kelak menginspirasi penyair dunia, dari Jalaluddin Rumi hingga Goethe di Jerman.
Baca juga: Omar Khayyam: Penyair, Ilmuwan, dan Sufi yang Kerap Disalahpahami
Harta Karun Misteri
Makhzan al-Asrar bukan sekadar kumpulan sajak religius. Nizami menganyam kisah-kisah moral, satir sosial, dan perenungan filosofis. Ia menyinggung ketidakadilan penguasa, keserakahan pejabat, hingga nasib rakyat jelata. Mengutip Peter J. Chelkowski dalam Mirror of the Invisible World (1975), “Nizami menulis dengan gaya yang penuh alegori: ia menegur sultan, tapi lewat kisah simbolik yang membuatnya tak mudah disensor.”
Karya ini terdiri dari 20 cerita moral. Salah satunya menggambarkan penguasa yang menuntut pujian dari rakyat, padahal ia hidup dari keringat mereka. Nada satir itu terdengar abadi: sindiran pada kekuasaan yang lupa diri.
Nizami lahir sekitar tahun 1141 di kota Ganja (kini bagian dari Azerbaijan). Ia hidup pada masa perpecahan politik di bawah dinasti Seljuk, ketika wilayah Persia hingga Kaukasus terbelah dalam perebutan kekuasaan. Justru dalam pusaran itu, Nizami menulis dengan penuh renungan. “Ia bukan penyair istana semata, tapi seorang filsuf yang menaruh kegelisahan etis ke dalam bait-bait panjang,” tulis Julie Scott Meisami dalam Medieval Persian Court Poetry (1987).
Nizami menolak hanya menjadi penghibur sultan. Ia memilih berdiri di pinggir lingkaran kekuasaan, menulis karya yang melampaui zamannya. Makhzan al-Asrar, yang ia rampungkan sekitar 1163, menjadi pintu masuk pada mahakaryanya: Khamsa atau Pentalogi—lima puisi epik yang kelak menginspirasi penyair dunia, dari Jalaluddin Rumi hingga Goethe di Jerman.
Baca juga: Omar Khayyam: Penyair, Ilmuwan, dan Sufi yang Kerap Disalahpahami
Harta Karun Misteri
Makhzan al-Asrar bukan sekadar kumpulan sajak religius. Nizami menganyam kisah-kisah moral, satir sosial, dan perenungan filosofis. Ia menyinggung ketidakadilan penguasa, keserakahan pejabat, hingga nasib rakyat jelata. Mengutip Peter J. Chelkowski dalam Mirror of the Invisible World (1975), “Nizami menulis dengan gaya yang penuh alegori: ia menegur sultan, tapi lewat kisah simbolik yang membuatnya tak mudah disensor.”
Karya ini terdiri dari 20 cerita moral. Salah satunya menggambarkan penguasa yang menuntut pujian dari rakyat, padahal ia hidup dari keringat mereka. Nada satir itu terdengar abadi: sindiran pada kekuasaan yang lupa diri.